Mungkin inilah ironi terakhir dalam hidup Guruh. Bahkan ketika ia telah berpulang, kita masih kesulitan menyebut namanya tanpa terlebih dahulu menyertakan bayang-bayang sang ayah.

Karena itu, berpulangnya Guruh semestinya tidak hanya menjadi kesempatan untuk mengenang, tetapi juga kesempatan untuk memperbaiki cara kita mengingat.

Kita perlu, setidaknya untuk sesaat, membebaskan Guruh dari kurungan gelar "anak bungsu." Bukan karena ikatan darah itu tidak penting. Justru karena terlampau penting, sehingga kerap menelan seluruh narasi tentang karya dan kehidupannya sendiri.