Ada kecenderungan dalam cara kita memandang anak-anak tokoh besar; Kita selalu mengukur mereka melalui bayang-bayang orang tuanya. Seolah-olah seorang anak dari tokoh besar harus terus menjawab pertanyaan yang sama: seberapa dekat ia dengan kebesaran ayah atau ibunya?

Guruh menanggung beban itu dengan cara yang spesifik. Ia lahir dari salah satu sosok paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia. Nama Soekarno bukan sekadar identitas seorang ayah. Ia adalah tanda bagi suatu zaman, simbol lahirnya republik, mitologi politik, hingga imajinasi tentang Indonesia itu sendiri.

Lantas, bagaimana mungkin seorang anak tumbuh melampaui bayang-bayang tokoh sebesar itu?