Pernyataan ini mengandung pesan mendasar bahwa transformasi Polri harus mengubah orientasi dari melaporkan kegiatan kepolisian menjadi membuktikan hasil yang dirasakan masyarakat. Ini tidak mudah untuk mengukurnya. Bukan lagi mengukur output kegiatan, tetapi dampak yang dirasakan oleh masyarakat dalam hal keamanan dan ketertiban.
Reposisi paradigmatik ini relevan mengingat tantangan keamanan juga semakin kompleks di berbagai tingkatan. Pada tingkat global, perkembangan geopolitik, teknologi disruptif, dan kejahatan siber menuntut institusi kepolisian yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi serta mampu bekerja lintas sektor dan yurisdiksi.
Pada tingkat regional, kejahatan yang bersifat lintas batas seperti narkotika, penyelundupan, perdagangan orang, dan kejahatan terorganisasi membutuhkan strategi yang tidak berhenti pada penangkapan pelaku lapangan, tetapi juga memutus jaringan dan melindungi korban.
Sementara itu, pada tingkat domestik, polarisasi, intoleransi, ekonomi ilegal, bencana, serta persoalan internal kepolisian menguji kemampuan negara untuk memberikan perlindungan secara adil dan konsisten kepada warganya.