NADIKABAR.COM — Ada yang lebih mahal daripada harga kursi taman, kabel lampu, atau perangkat penghubung lampu lalu lintas yang hilang. Nilainya terletak pada fungsi yang terhenti, pelayanan yang terganggu, dan kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan pemerintah menjaga fasilitas bersama.

Persoalan itu menjadi perhatian di Kota Surabaya, Jawa Timur. Dalam beberapa bulan terakhir, pencurian menyasar kursi besi taman, kabel lampu hias, pot tanaman, gerobak sampah, hingga perangkat penghubung lampu lalu lintas. Komponen kecil dalam sistem teknologi perkotaan pun dapat menimbulkan dampak besar ketika hilang.

Karena itu, pencurian fasilitas umum perlu dilihat sebagai persoalan tata kelola kota, bukan semata-mata tindak kriminal. Surabaya tidak cukup hanya memperbanyak taman dan membangun infrastruktur modern. Pemerintah juga harus memastikan fasilitas tersebut terlindungi, berfungsi, dan dapat dinikmati masyarakat dalam jangka panjang.

Hilangnya perangkat penghubung sistem lampu lalu lintas di Jalan Mayjen Sungkono pada 2 November 2026 memperlihatkan kerentanan infrastruktur perkotaan. Lampu lalu lintas tetap menyala, tetapi komponen yang menghubungkannya dengan jaringan internet hilang sehingga koneksi ke Surabaya Intelligent Transport System (SITS) di Bratang terputus.

Akibatnya, Dinas Perhubungan tidak dapat memantau kepadatan kendaraan secara waktu nyata untuk menyesuaikan durasi lampu hijau. Perbaikan dilakukan melalui koordinasi dengan Telkom sehingga sistem kembali berfungsi. Meski gangguan dapat dipulihkan, kejadian tersebut menunjukkan bahwa satu komponen kecil dapat memengaruhi kinerja sistem transportasi yang lebih luas.

Kerentanan juga terlihat pada fasilitas taman. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya mencatat lebih dari 800 taman, termasuk 47 taman aktif. Sekitar 220 titik kursi besi disediakan untuk warga, dengan harga satu kursi lebih dari Rp3 juta.