Lebih dari itu, teknologi memberi pilihan baru bagi mereka untuk melihat, mendengar, menyentuh, dan memahami materi pembelajaran.
Pengalaman tersebut terlihat di ruang kelas SLB YPCC Banda Aceh.
Di sekolah itu, cara setiap murid menangkap pelajaran tidaklah sama.
Bagi murid tunanetra misalnya, suara menjadi jembatan utama untuk memahami informasi yang disampaikan guru.
Sementara bagi murid dengan low vision, ukuran tampilan menjadi penting agar tulisan, gambar, dan materi yang tersaji di depan kelas dapat terlihat lebih jelas.