Tradisi pengajaran agama yang terlalu menekankan perbedaan dinilai perlu diubah menuju pemahaman yang objektif bahwa ajaran moral, etika, dan kisah-kisah spiritual universal antaragama memiliki jauh lebih banyak titik temu.

“Sebetulnya, kalau kita mau jujur, wilayah toleransi semacam itu bisa diperkecil. Apa yang selama ini kita anggap berbeda, sesungguhnya jangan-jangan tidak berbeda, hanya persepsi kita yang terlalu membedakannya satu sama lain,” kata dia.

Gagasan itu berangkat dari dinamika ketidakpastian dunia. Saat ini, kata Menag, banyak negara di Eropa hingga Afrika mengalami kemunduran ekonomi, inflasi yang tinggi, kelangkaan energi, hingga krisis.

Sebaliknya, Indonesia masih mencatatkan pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,6 persen, inflasi yang terkendali, serta cadangan pangan nasional yang mencukupi.

Menurut Menag, kemampuan Indonesia bertahan di tengah paceklik global tersebut tidak lepas dari kontribusi para pemimpin agama yang secara konsisten mampu menenangkan umat di akar rumput.