Selain memperkuat kerukunan di dalam negeri, nilai-nilai persatuan antarumat beragama juga menjadi modal penting bagi Indonesia dalam menjalankan diplomasi religius di tingkat internasional.

β€œPendekatan diplomasi formal melalui lembaga dunia seperti PBB kerap mengalami jalan buntu dalam meredam konflik global. Sebaliknya, diplomasi religius yang menyentuh hati nurani, humanity is only one, terbukti mampu membangun kesadaran kolektif kemanusiaan tanpa memandang sekat suku, ras, atau agama,” kata dia.

Di samping krisis ekonomi dan geopolitik, Menag mengingatkan adanya tantangan besar pada masa depan, seperti disrupsi teknologi berupa kecerdasan buatan tingkat tinggi (artificial super intelligence) hingga persoalan moral generasi muda.

Untuk menghadapinya, Kementerian Agama mendorong konsolidasi seluruh wadah ikatan cendekiawan lintas agama, mulai dari cendekiawan Muslim, Katolik, Kristen, Buddha, Hindu, hingga Khonghucu, untuk duduk bersama merumuskan strategi kebangsaan.

β€œDengan kolaborasi lintas iman yang kuat, Indonesia optimistis mampu berdiri kokoh sebagai teladan kerukunan beragama bagi dunia,” katanya.