NADIKABAR.COM — Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menggelar pertemuan dengan sejumlah para tokoh lintas agama di Indonesia dan mengajak mereka untuk terus memperkuat kerukunan serta memaknai ulang konsep toleransi beragama.

Nasaruddin Umar mengatakan toleransi tidak lagi cukup dipahami sebatas kompromi atas perbedaan, tetapi perlu diarahkan pada penguatan dan pencarian persamaan antarumat.

“Kalau toleransi itu, kesannya, image-nya, kita seolah-olah ada unsur dipaksa untuk memberikan suatu pengakuan yang tidak sesuai dengan hati nurani kita,” ujar Menag dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.

Redefinisi itu, kata Menag, menjadi kunci untuk menjaga stabilitas nasional sekaligus memperkuat diplomasi religius (religious diplomacy) Indonesia yang berbasis hati nurani di tengah situasi global saat ini.

Menag menegaskan standar toleransi yang biasa tidak lagi memadai. Selama ini, toleransi kerap dipersepsikan secara pasif, seolah-olah mengandung unsur paksaan untuk menerima perbedaan yang belum tentu selaras dengan hati nurani.

Oleh karena itu, menurut Menag, wilayah pergesekan akibat sekat perbedaan harus diperkecil dengan memperluas wilayah perjumpaan dan mencari persamaan substansial antarajaran agama.

Tradisi pengajaran agama yang terlalu menekankan perbedaan dinilai perlu diubah menuju pemahaman yang objektif bahwa ajaran moral, etika, dan kisah-kisah spiritual universal antaragama memiliki jauh lebih banyak titik temu.

“Sebetulnya, kalau kita mau jujur, wilayah toleransi semacam itu bisa diperkecil. Apa yang selama ini kita anggap berbeda, sesungguhnya jangan-jangan tidak berbeda, hanya persepsi kita yang terlalu membedakannya satu sama lain,” kata dia.

Gagasan itu berangkat dari dinamika ketidakpastian dunia. Saat ini, kata Menag, banyak negara di Eropa hingga Afrika mengalami kemunduran ekonomi, inflasi yang tinggi, kelangkaan energi, hingga krisis.

Sebaliknya, Indonesia masih mencatatkan pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,6 persen, inflasi yang terkendali, serta cadangan pangan nasional yang mencukupi.

Menurut Menag, kemampuan Indonesia bertahan di tengah paceklik global tersebut tidak lepas dari kontribusi para pemimpin agama yang secara konsisten mampu menenangkan umat di akar rumput.

Selain memperkuat kerukunan di dalam negeri, nilai-nilai persatuan antarumat beragama juga menjadi modal penting bagi Indonesia dalam menjalankan diplomasi religius di tingkat internasional.

“Pendekatan diplomasi formal melalui lembaga dunia seperti PBB kerap mengalami jalan buntu dalam meredam konflik global. Sebaliknya, diplomasi religius yang menyentuh hati nurani, humanity is only one, terbukti mampu membangun kesadaran kolektif kemanusiaan tanpa memandang sekat suku, ras, atau agama,” kata dia.

Di samping krisis ekonomi dan geopolitik, Menag mengingatkan adanya tantangan besar pada masa depan, seperti disrupsi teknologi berupa kecerdasan buatan tingkat tinggi (artificial super intelligence) hingga persoalan moral generasi muda.

Untuk menghadapinya, Kementerian Agama mendorong konsolidasi seluruh wadah ikatan cendekiawan lintas agama, mulai dari cendekiawan Muslim, Katolik, Kristen, Buddha, Hindu, hingga Khonghucu, untuk duduk bersama merumuskan strategi kebangsaan.

“Dengan kolaborasi lintas iman yang kuat, Indonesia optimistis mampu berdiri kokoh sebagai teladan kerukunan beragama bagi dunia,” katanya.