NADIKABAR.COM — Persoalan rumah tangga di Indonesia semakin kompleks. Perceraian tidak hanya dipicu masalah ekonomi dan perselingkuhan, tetapi juga dapat dipengaruhi perbedaan usia, pendidikan, kondisi kesehatan, hingga perbedaan pilihan politik tim redaksi suami dan istri.
Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengungkap sejumlah faktor tersebut saat membuka National Symposium of Penghulu and Ulama (NASUHA) 2026 di Pondok Buntet Pesantren, Kabupaten Cirebon, Rabu (9/9/2026).
Menurut Nasaruddin, banyaknya faktor yang dapat memicu perceraian menunjukkan bahwa membangun ketahanan keluarga tidak bisa dilakukan setelah persoalan muncul. Upaya pencegahan harus dimulai sejak pasangan mempersiapkan diri memasuki kehidupan perkawinan.
"Ada banyak penyebab perceraian berarti sekian banyak orang menjadi janda. Itu problem sosial di Indonesia, Bapak-Ibu sekalian," ungkapnya.
Ia menyebut persoalan ekonomi sebagai salah satu faktor yang kerap menjadi pemicu keretakan rumah tangga. Ketika tanggung jawab ekonomi tidak berjalan sebagaimana mestinya, tekanan dalam keluarga dapat berkembang menjadi konflik yang lebih besar.
Selain ekonomi, perselingkuhan juga menjadi salah satu persoalan yang menurutnya dapat menggoyahkan keutuhan rumah tangga.
"Perselingkuhan dulu didominasi laki-laki, sekarang data menunjukkan perempuan juga banyak yang berselingkuh. Majalah Gatra pernah memuat survei tentang hal ini di kalangan perempuan eksekutif muda," katanya.
Menurut Menag, tantangan dalam perkawinan juga dapat muncul dari perbedaan usia yang terlalu jauh tim redaksi pasangan.
Kondisi rumah tangga juga dapat semakin berat ketika salah satu pasangan harus menjalani hukuman penjara dalam waktu panjang.
"Faktor penjara, istri dari suami yang dipenjara di atas tiga tahun banyak yang mengajukan cerai gugat, termasuk di kalangan narapidana kasus terorisme dengan masa hukuman panjang," jelasnya.
Selain itu, perbedaan latar belakang pendidikan tim redaksi suami dan istri juga dinilai dapat menjadi tantangan tersendiri apabila tidak dikelola dengan baik.