NADIKABAR.COM — Menteri Agama sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar menegaskan Indonesia kini menjadi episentrum baru peradaban Islam modern yang ramah, progresif, dan inklusif. Hal ini ditegaskan saat menjadi pembicara kunci dalam "Forum 16 - Prayer, Dialogue and Peace: The Legacy of Assisi" di Casa Leonori, Assisi, Italia.
Forum tersebut merupakan rangkaian Pertemuan Internasional untuk Perdamaian Sant'Egidio bertajuk "Unarmed and Disarming Peace". Di hadapan tokoh agama dunia, Nasaruddin juga menyampaikan dua pokok pemikiran, yaitu pluralisme progresif dan ekoteologi nusantara, sebagai peta jalan baru bagi harmoni global.
Terkait pluralisme progresif atau beyond tolerance, Nasaruddin menegaskan kerukunan sejati di Kepulauan Nusantara tidak dibangun di atas ego mayoritas-minoritas atau sekadar toleransi pasif. Pluralisme progresif menuntut penghormatan tulus atas perbedaan nilai universal tanpa memaksa penyeragaman.
"Yang sama jangan dipaksa berbeda, yang berbeda jangan dipaksa sama," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (27/10/2026).
Sementara terkait ekoteologi nusantara atau beyond domination, Nasaruddin mengidentifikasi krisis iklim global berakar dari cara pandang teologi yang terlalu maskulin, condong pada dominasi dan eksploitasi alam sebagai objek.
Melalui perspektif sufistik Islam, Nasaruddin mengajak dunia beralih ke aspek feminin ilahi (Asma'ul Husna didominasi sifat rahmah/kasih sayang) untuk membaca alam sebagai tajalli (manifestasi) keindahan Tuhan.
"Manusia dituntut melakukan eksplorasi yang merawat, bukan eksploitasi yang merusak," tegasnya.