Senada, Tokoh Buddhisme Rissho Kosei-kai, Jepang, Megumi Hirota Wada menyetujui pilar ekoteologi yang disampaikan Nasaruddin. Menurutnya, menjaga kelestarian bumi adalah tanggung jawab spiritual bersama, di mana harmoni manusia dengan alam merupakan kunci dari perdamaian sejati.

Dukungan juga disampaikan Prefek Dikasteri untuk Dialog Antaragama, Takhta Suci, Kardinal George Jacob Koovakad. Ia menilai model kerukunan Indonesia serta Deklarasi Istiqlal 2024 merupakan inspirasi nyata bagaimana dialog teologis mampu melahirkan tindakan kemanusiaan bersama yang konkret.

Tokoh lainnya, Presiden Dhammaraingsei Buddhist Association, Kamboja, Touch Sarith menyoroti poin pluralisme progresif. Sarith memuji pendekatan Nusantara yang menolak dominasi mayoritas atas minoritas, menilainya sebagai fondasi kokoh untuk stabilitas kawasan Asia Tenggara.

Di sisi lain, Pakar Hukum dan Kebebasan Beragama Internasional, Prof. W. Cole Durham menilai makalah Nasaruddin memberikan landasan teoritis-praktis yang kuat bagi pengembangan kebijakan hukum dan kebebasan beragama berbasis pelestarian lingkungan (eco-justice).

Sementara itu, Delegasi Sipil dan Pengamat Perdamaian, Mohammed Esslimani & Valerie Reginer menyatakan seruan Nasaruddin untuk menggunakan bahasa agama sebagai instrumen formal diplomasi internasional merupakan terobosan krusial untuk melucuti permusuhan psikologis di wilayah-wilayah konflik. Apresiasi ini pun semakin memantapkan posisi Indonesia sebagai pelopor gerakan Islam moderat dunia (Wasatiyyah Islam).

Sebagai informasi, turut mendampingi Menag di Italia, Staf Ahli Menteri Agama yang juga Plt. Dirjen Bimas Katolik Adiyarto Sumardjono. Agenda Menag dijadwalkan berlanjut menuju Vatikan untuk menemui Menteri Luar Negeri Takhta Suci Vatikan guna membahas penguatan kemitraan strategis, serta penjajakan kerja sama kajian keagamaan dengan Pontificio Istituto di Studi Arabi e d'Islamistica (PISAI).