NADIKABAR.COM — Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon meresmikan Museum Keris Indonesia di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Jumat, setelah menjalani revitalisasi sebagai upaya melestarikan warisan budaya bangsa sekaligus memperkuat fungsi museum sebagai pusat edukasi dan informasi kebudayaan.

Fadli mengatakan perubahan nama dari Museum Pusaka menjadi Museum Keris Indonesia dilakukan untuk mempertegas identitas museum, mengingat mayoritas koleksi yang dipamerkan berkaitan dengan keris.

“Pusaka itu terlalu luas. Bukan hanya keris, bukan hanya tombak, bisa pisau, bisa segala macam. Bahkan tanah air kita pun adalah pusaka,” kata Fadli dalam sambutannya pada peresmian Museum Keris Indonesia di TMII.

Ia menyebut Museum Keris Indonesia memiliki 6.021 koleksi yang terdiri atas keris, tombak, pedang, serta sejumlah kecil koleksi keramik.

Menurut Fadli, museum tersebut dihadirkan sebagai upaya merawat koleksi, menghimpun pengetahuan, mendokumentasikan sejarah, serta memperkenalkan keris sebagai warisan budaya yang memiliki nilai penting di masyarakat.

Ia menambahkan, koleksi museum menggambarkan keragaman tradisi perkerisan Nusantara yang tidak hanya berkembang di Pulau Jawa, tetapi juga di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Sumatera, Bali, Lombok, Sumbawa, Sulawesi, Kalimantan, hingga kawasan timur Indonesia.

Fadli mengatakan revitalisasi museum merupakan bagian dari arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperbarui museum dan cagar budaya di Indonesia.

Ia berharap museum-museum di Indonesia dapat berkembang menjadi pusat edukasi, pusat budaya, pusat informasi, sekaligus kantong budaya yang turut memperkuat jati diri dan identitas bangsa.

"Revitalisasi tidak boleh berhenti hanya pembenahan fisik, bangunan dan fasilitas. Revitalisasi harus diikuti penguatan tata kelola, kurasi, riset, digitalisasi, narasi, serta penguatan akses terhadap pengetahuan," kata Menbud.

Menurut dia, revitalisasi Museum Keris Indonesia diharapkan tercermin dalam pengelolaan koleksi, penyusunan alur cerita pameran (storyline), narasi kuratorial, serta pengembangan program edukasi yang mampu menghadirkan pengalaman baru bagi masyarakat, khususnya generasi muda.

Fadli menegaskan bahwa keris tidak semata-mata dipandang sebagai senjata, benda pusaka, atau sesuatu yang berkaitan dengan mistik, melainkan sebagai warisan budaya yang merefleksikan ekspresi seni, pengetahuan tradisional, sejarah, teknologi, dan nilai-nilai kehidupan masyarakat.

Ia juga menyampaikan bahwa keris telah memperoleh pengakuan UNESCO sebagai Warisan Budaya Takbenda. Pengakuan tersebut, menurut dia, menjadi tanggung jawab bersama untuk memastikan pengetahuan, keterampilan, dan tradisi perkerisan tetap lestari serta diwariskan kepada generasi mendatang.

Fadli berharap peresmian Museum Keris Indonesia menjadi awal pengembangan museum yang semakin berkualitas dan dapat menginspirasi museum-museum lain di kawasan TMII.

Ia juga mengharapkan kehadiran museum tersebut dapat menambah jumlah pengunjung TMII serta menjadikan kawasan itu sebagai ruang kebudayaan yang hidup di tengah masyarakat, khususnya generasi muda.

“Saya mengajak mengunjungi museum, mengenal sejarah dan kekayaan budaya kita, serta turut mengambil bagian dalam merawat dan meneruskannya,” kata Fadli.