NADIKABAR.COM β Menteri Kebudayaan Fadli Zon menghadiri Puncak Hari Kebudayaan Nasional 2026 ditandai dengan melepas arak-arakan keberagaman dan persebatian antaretnis di Halaman Balai Adat Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR), Pekanbaru, Minggu.
βAtas nama Kementerian Kebudayaan, saya sampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya dan apresiasi setinggi-tingginya kepada LAMR Provinsi Riau beserta seluruh pihak yang telah menyelenggarakan kegiatan ini,β katanya.
Menurut dia, arak-arakan ini ikhtiar bersama untuk melestarikan warisan budaya, tradisi, dan adat Melayu Riau sekaligus memperkuat persaudaraan di tengah keberagaman masyarakat.
Dia mengatakan hal ini merupakan kekayaan Indonesia yang harus dijaga dan dikembangkan.
Kebudayaan, katanya, tidak hanya mencakup seni namun juga bahasa, tradisi lisan, manuskrip, ritus, adat istiadat, pengetahuan tradisional, olahraga tradisional, permainan rakyat, hingga berbagai bentuk ekspresi seni.
Dia juga menyampaikan kuatnya akar kebudayaan Melayu dalam perjalanan sejarah Nusantara. Pasalnya Bahasa Melayu memiliki peran penting dalam sejarah perdagangan dan komunikasi antar masyarakat di kawasan Nusantara.
Fadli berharap, kebudayaan di Riau terus berkembang, termasuk museum, situs sejarah, dan berbagai warisan budaya yang dimiliki daerah ini.
Dirinya juga menyinggung upaya pengusulan Tari Zapin ke United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) bersama negara-negara serumpun, termasuk Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.
Lebih lanjut dia mendorong komunitas dan pelaku budaya di Riau memanfaatkan program Dana Indonesiana untuk mendukung kegiatan seni dan kebudayaan.
Pemerintah, katanya, turut menjalankan program revitalisasi ratusan situs budaya, termasuk sejumlah situs di Riau.
Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian (DPH) LAMR Provinsi Riau Datuk Seri Taufik Ikram Jamil menyampaikan kegiatan yang diikuti ribuan peserta dari berbagai peguyuban tersebut bukan sekadar perayaan, melainkan juga simbol persatuan dan kekuatan kebudayaan yang tumbuh di daerah dengan sebutan "Bumi Lancang Kuning" itu.
"Susunan empat jalur arak-arakan memiliki makna yang berkaitan dengan empat sungai besar di Riau, yakni Sungai Rokan, Siak, Kampar, dan Indragiri. Simbol empat jalur itu juga selaras dengan tradisi sastra Melayu yang mengenal pantun empat baris serta syair yang mendapat pengaruh tradisi Arab," katanya.