Indonesia juga berbagi pengalaman dalam pelindungan warisan budaya hidup, pengembangan pendidikan inklusif, penguatan ilmu kelautan dan kesiapsiagaan tsunami, pengintegrasian pengetahuan ilmiah dengan pengetahuan lokal, serta pengembangan tata kelola kecerdasan artifisial (AI) yang etis.

Repatriasi sebagai Pilar Kedaulatan Budaya

Fadli turut menegaskan repatriasi merupakan bagian penting dari kedaulatan budaya Indonesia. Indonesia terus bekerja sama dengan negara-negara mitra untuk mendorong pengembalian benda dan artefak budaya, termasuk Koleksi Dubois dari Belanda yang mencakup lebih dari 30.000 fosil yang berkaitan dengan Homo erectus, yang dikenal sebagai Java Man atau Manusia Jawa.

"Bagi Indonesia, repatriasi merupakan keharusan moral untuk memulihkan keutuhan warisan budaya, mengatasi ketidakadilan sejarah, dan membangun rasa saling menghormati," kata Fadli.

Ia juga menyerukan kepada negara-negara anggota UNESCO untuk memperkuat kerja sama dalam perlindungan warisan budaya berwujud maupun tak berwujud serta mendorong pengembalian dan restitusi kekayaan budaya kepada negara asalnya.

Fadli menambahkan, pengakuan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi ke-10 Konferensi Umum UNESCO menunjukkan bahwa multilateralisme akan semakin kuat ketika lebih banyak bahasa, budaya, dan perspektif mendapatkan ruang dalam kerja sama internasional.

Tiga Prioritas Indonesia untuk UNESCO

Dalam memperkuat dampak UNESCO ke depan, Fadli menyampaikan tiga prioritas Indonesia. Pertama, transformasi digital yang berpusat pada manusia, inklusif, dan dapat diakses oleh semua.

Sebagai negara pertama di Asia Tenggara yang menyelesaikan UNESCO AI Readiness Assessment Methodology, Indonesia mendorong perluasan dukungan bagi negara-negara berkembang melalui akses terhadap keahlian, peningkatan kapasitas, dan dukungan kebijakan untuk pemanfaatan AI yang etis dan inklusif.