"Kemudian kerusakan epitel ini juga bisa menyebabkan terbukanya reseptor saraf di saluran nafas. Ya, karena perlukaan dari debu-debu itu. Pembukaan epitel saraf yang terbuka akan menyebabkan orang menjadi lebih sensitif dan sebagai airway hypersensitive," jelas Prof Agus dalam siaran detikPagi pada Senin (7/9/2026).

Ketika saluran napas sudah berada dalam kondisi airway hypersensitive, organ pernapasan akan bereaksi secara berlebihan terhadap benda asing yang masuk.

Jika seseorang terus-menerus terpapar abu vulkanik dalam jangka panjang tanpa perlindungan, hipersensitivitas ini akan memicu respons penyempitan saluran napas secara permanen, yang dikenal sebagai asma.

Prof Agus menegaskan, orang tanpa riwayat genetik pun bisa menjadi korban:

"Sehingga pada beberapa orang cenderung, airway hypersensitive itu akan menginduksi terjadinya asma. Bila pajanan berlanjut, orang-orang yang sebelumnya tidak pernah punya asma bisa jadi asma. Karena pajanan jangka panjang," katanya.