Proses ini biasanya diawali dari gejala iritasi ringan yang sering kali dianggap remeh. Begitu abu vulkanik masuk ke saluran napas, tubuh akan langsung merespons dengan batuk dan rasa panas di tenggorokan.
"Nah ini debu vulkanik yang banyak mengandung mineral, logam-logam, juga mengandung silika, salah satu yang paling banyak, sifatnya iritatif. Terhirup pasti bikin respons kita untuk batuk terasa panas di tenggorokan, nanti berlanjut jadi superinfeksi," lanjutnya.
Jika rasa panas dan batuk iritasi ini dibiarkan tanpa adanya perlindungan diri, peradangan akan terus berlanjut hingga merusak saraf saluran napas.
Oleh karena itu, memakai masker saat terjadi erupsi gunung berapi bukan cuma untuk menghindari batuk sesaat, melainkan untuk mencegah agar saluran napas tidak terluka dan berkembang menjadi asma di kemudian hari.