Mu'ti lantas mencontohkan situasi cut off data pada murid kelas XII. Ketika bulan Juli tiba, murid tersebut sudah lulus, sementara anggaran sudah dibuat untuk satu tahun. Hal itulah, sambungnya, yang kemudian kerap menjadi kendala dari penyaluran PIP.

"Nah, misalnya begini, murid itu sekarang kelas XII, katakanlah begitu kan. Nanti Juli kan dia sudah lulus. Dia sudah lulus, sementara anggarannya kan diplot untuk satu tahun. Nah, di situ yang seringkali menjadi kendala, kenapa kemudian ada residu data dari penerima PIP yang belum bisa diambil oleh para murid itu," kata Mu'ti.

Ia pun mengaku belum menemukan solusi dari masalah ini. Pihaknya masih berusaha mencari jalan keluar, termasuk berkoordinasi dengan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK). Sebab, menurutnya, masih terdapat laporan dari PPATK soal dana PIP yang tidak dapat diambil penerima.

"Nah memang ini kita belum ketemu bagaimana jalan keluarnya, tapi terus kita cari bagaimana penyelesaian terbaik supaya residu dari penyaluran PIP ini tidak terus berulang," ucap Mu'ti.