Menurut dia, kemampuan tersebut penting ditanamkan di sekolah karena peserta didik hidup dalam lingkungan sosial yang beragam.

"Program dan forum seperti ini penting agar kita lebih mengenal orang lain yang berbeda, serta menghormati dan menerimanya dengan ketulusan dan sikap dewasa. Sebab, meskipun ada perbedaan, kita juga memiliki banyak persamaan di antara kita," katanya.

Selain toleransi, Mendikdasmen Mu'ti menilai peserta didik juga perlu memiliki keterampilan sosial (social skills) untuk berinteraksi secara sehat dengan orang lain.

Ia mengaitkan hal tersebut dengan konsep learning to live together atau belajar untuk hidup bersama, yang menurutnya menjadi bagian penting dalam proses pendidikan sehingga mendorong penguatan pluralisme positif di lingkungan pendidikan.

Melalui konsep tersebut, kata Mu'ti, peserta didik tidak hanya didorong untuk teguh menjalankan keyakinannya masing-masing, tetapi juga mampu memberikan ruang dan memfasilitasi mereka yang berbeda.

"Perbedaan tidak menjadi pemisah, melainkan menjadi kekayaan yang memungkinkan kita untuk saling bekerja sama," ujarnya.

Mu'ti pun menegaskan penciptaan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman juga membutuhkan keterlibatan ekosistem yang lebih luas, mulai dari keluarga, masyarakat, hingga lingkungan digital.

Menurut dia, perilaku kekerasan yang muncul pada anak dapat dipengaruhi berbagai lingkungan di luar sekolah, termasuk keluarga, masyarakat, serta konten yang dikonsumsi melalui media massa maupun media sosial.

"Upaya menciptakan sekolah yang aman dan nyaman tidak berhenti di sekolah saja, tetapi juga memerlukan ekosistem yang mendukung di masyarakat dan keluarga," katanya.