Ia mengatakan interaksi yang sehat antara anak dengan teman sebaya maupun orang dewasa dapat membentuk kebiasaan untuk saling menghormati dan menerima.

"Semakin banyak anak-anak berinteraksi dengan teman sebaya dan orang dewasa dalam suasana yang saling memuliakan, mereka akan memiliki perilaku baik dengan sincerity to accept and accommodate others," kata Mu'ti.

Lebih lanjut, ia juga menambahkan guru memiliki posisi strategis dalam membentuk hidden curriculum di sekolah melalui praktik dan pengalaman yang dialami peserta didik setiap hari.

Lingkungan sekolah, menurut dia, dapat menjadi ruang bagi peserta didik untuk belajar menerapkan nilai toleransi, keterbukaan, dan kerja sama, bukan hanya memahami nilai tersebut secara teoritis.

Hal itu sejalan dengan kebijakan pembelajaran mendalam (deep learning) yang menempatkan pengalaman dan praktik pendidikan sebagai bagian dari pembentukan karakter peserta didik.

"Substansi pendidikan adalah membangun peradaban dan karakter, sehingga manusia memiliki sikap utama serta komitmen untuk saling memuliakan," katanya.

Dengan demikian, ia menilai guru sebagai figur sentral dalam membentuk sekolah sebagai ruang perjumpaan bagi peserta didik yang berbeda latar belakang.

"Guru dapat menciptakan lingkungan sekolah sebagai meeting point dan melting point, proses di mana mereka yang berbeda bertemu di sekolah sebagai rumah bersama, lalu dibentuk secara edukatif dan alamiah untuk memiliki sikap toleran, terbuka, serta siap bekerja sama," ujarnya.

Ia berharap forum dalam rangka memperingati Hari Guru Sedunia tersebut dapat memperluas wawasan dan pengalaman para pemangku kepentingan pendidikan dalam mewujudkan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman.