NADIKABAR.COM — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti mengatakan bahwa tim dari Inspektorat Jenderal Kemendikdasmen sudah datang ke Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, terkait kasus perundungan.
"Terkait dengan kasus yang ada di Pemalang (perundungan, red.) sudah ada tim dari Irjen yang datang langsung ke orang tuanya," katanya, di Kabupaten Semarang, Jumat.
Hal tersebut disampaikannya usai membuka Festival Tunas Bahasa Ibu 2026 tingkat Jateng yang digelar Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, bersama Balai Bahasa Jateng.
Tim Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Jateng, kata dia, juga bertemu dengan Bupati Pemalang, kepala dinas terkait, dan juga jajaran masyarakat.
"Kami telah berusaha untuk bagaimana agar persoalan ini diselesaikan dengan sebaik-baiknya," katanya.
Ia menyampaikan keprihatinan atas masih berulangnya kasus perundungan, termasuk di Pemalang yang menimpa anak kelas 2 sekolah dasar (SD) hingga harus meregang nyawa.
"Kami merasa prihatin atas kejadian kekerasan yang masih saja terjadi di sekolah-sekolah di Indonesia, dan peristiwa yang terjadi di Pemalang, mungkin juga daerah lainnya. Mudah-mudahan tidak terus terulang di masa akan datang," katanya.
Secara aturan, kata dia, Kemendikdasmen sebenarnya melakukan berbagai upaya agar kebijakan membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman dapat ditegakkan di semua satuan pendidikan.
"Tetapi, memang dalam realitasnya peraturan itu belum berjalan dengan sebaik-baiknya," katanya.
Ke depan, ia mengaku pihaknya akan berusaha untuk lebih meningkatkan pelaksanaan budaya sekolah yang aman dan nyaman, serta budaya ASRI (aman, sehat, resik, indah).
"Kami berkomitmen dan mengajak semua pihak untuk lebih meningkatkan pembinaan kepada anak-anak, tidak hanya ketika mereka berada di sekolah tapi juga ketika di rumah, di masyarakat dan ketika mereka menggunakan media," katanya.
Karena, kata dia, banyak pelaku kekerasan itu terinspirasi oleh apa yang mereka tonton di media, terutama di internet dan media sosial.
"Anak-anak tidak tahu membedakan antara dunia nyata dengan dunia maya sehingga kadang-kadang apa yang mereka lihat itu, kemudian mereka lakukan dalam kehidupan nyata," katanya.
Namun, kata dia, yang terpenting adalah bagaimana bekerja sama dalam melakukan pembinaan anak-anak sesuai dengan ranahnya masing-masing.
"Pembinaan di sekolah tidak cukup tanpa dukungan pembinaan orang tua di dalam keluarga. Pembinaan di sekolah dan keluarga tidak cukup tanpa pembinaan di masyarakat," katanya.
Sebelumnya, siswa kelas 2 SDN 1 Kebondalem, Kabupaten Pemalang, berinisial A (7), meninggal dunia setelah diduga menjadi korban perundungan oleh kakak kelasnya.
Korban meninggal dunia pada Rabu (30/9), setelah sempat dirawat di RSUD dr M Ashari Pemalang sejak Kamis (17/9), dan kasus tersebut saat ini masih dalam penyelidikan pihak kepolisian.