NADIKABAR.COM — Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mengingatkan bahwa menduduki jabatan rektor maupun posisi struktural lainnya bukanlah puncak pencapaian tertinggi bagi seorang akademisi.

Tapi yang merupakan tingkatan tertinggi, menurutnya, adalah sejauh mana ilmu pengetahuan dan inovasi yang dihasilkan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

"Pencapaian tertinggi seorang akademisi bukan semata-mata menduduki jabatan rektor atau posisi struktural lainnya. Ilmu pengetahuan mencapai nilai tertingginya ketika dapat dimanfaatkan oleh masyarakat," kata Mendiktisaintek Brian Yuliarto saat memberikan arahan pada hari kedua Akademi Kepemimpinan Perguruan Tinggi (AKPT) 2026 di ITB, Bandung, Jawa Barat, Jumat.

Mendiktisaintek menyebut dunia pendidikan tinggi saat ini tengah berhadapan dengan gelombang perubahan besar.

Perubahan pesat di bidang teknologi digital, eksponensialitas kecerdasan buatan (AI), arus globalisasi, hingga dinamika geopolitik global menuntut perguruan tinggi untuk bergerak lebih cepat, adaptif, serta mampu menciptakan nilai tambah secara ekonomi maupun sosial.

Ia mengingatkan tolok ukur keberhasilan institusi kampus tidak lagi cukup hanya dilihat dari deretan publikasi ilmiah di jurnal internasional, reputasi akademik di atas kertas, atau sekadar gengsi jabatan struktural para pengajarnya.

"Perguruan tinggi tidak cukup hanya unggul di atas kertas, tetapi harus mampu beradaptasi, menciptakan nilai, dan menghasilkan dampak nyata," kata Mendiktisaintek.

Menurutnya, perguruan tinggi di Indonesia harus berani bertransformasi dari lembaga yang sekadar memproduksi dan menyebarkan pengetahuan menjadi motor penggerak inovasi yang langsung menjawab kebutuhan riil di tengah masyarakat.

Oleh karena itu penguatan riset terapan, program hilirisasi hasil penelitian, serta jalinan kolaborasi erat dengan dunia industri, lanjutnya, menjadi aspek yang tidak bisa ditawar lagi.

Kendati menekankan pentingnya komersialisasi dan nilai guna riset, Mendiktisaintek menyatakan kegiatan publikasi ilmiah tetap memegang peranan vital sebagai fondasi utama pengembangan ilmu pengetahuan. Riset mendasar yang kuat akan menjadi modal lahirnya penemuan berharga tingginya yang siap dihilirisasi.

"Namun hasil penelitian diharapkan tidak berhenti pada publikasi, melainkan berkembang menjadi teknologi, inovasi, solusi sosial, dan nilai ekonomi," ujarnya.

Untuk itu Mendiktisaintek mendorong perguruan tinggi untuk merestrukturisasi budaya akademik internal, melalui penyediaan skema insentif yang memadai serta bentuk apresiasi nyata bagi para dosen dan peneliti yang berhasil melahirkan karya tepat guna.

Lebih jauh ia menekankan pentingnya figur kepemimpinan kampus yang visioner, adaptif, dan responsif terhadap dinamika zaman.

Para pimpinan perguruan tinggi dituntut mampu mengantisipasi arah perubahan, membangun jejaring kolaborasi lintas sektor, serta mengarahkan pengelolaan aset, sumber daya, hingga penyelarasan program studi secara efektif demi memperkuat keunggulan kompetitif institusi.

Diinformasikan AKPT merupakan program flagship Kemendiktisaintek yang dirancang khusus untuk menggembleng kapasitas kepemimpinan serta tata kelola para pimpinan perguruan tinggi se-Indonesia.