NADIKABAR.COM — Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mengusulkan pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik pengelolaan gambut di sedikitnya enam provinsi untuk melibatkan mahasiswa dalam menjaga dan mengelola lahan gambut.

“Kalau nanti tahun depan barangkali KKN Tematik kita adalah menjaga gambut, boleh juga,” kata Brian dalam Workshop Pembentukan Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) di Jakarta, Jumat.

Usulan tersebut disampaikan Brian kepada Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dalam penutupan lokakarya.

Brian mengatakan KKN tematik dapat diarahkan agar mahasiswa turun ke kawasan gambut sejak sebelum periode rawan kebakaran sehingga perguruan tinggi dapat terlibat sejak tahap pencegahan.

“Paling tidak di enam provinsi kita bisa arahkan KKN-nya khusus temanya menjaga atau mengelola lahan gambut,” ujar dia.

Namun, ia belum merinci enam provinsi yang dimaksud maupun jumlah mahasiswa dan perguruan tinggi yang akan dilibatkan. Usulan tersebut juga belum menjadi program yang telah ditetapkan.

Brian mengatakan mahasiswa biasanya mulai dapat bergerak sekitar Juni apabila gagasan KKN tematik tersebut ditindaklanjuti.

“Jika memang (memungkinkan), mulai bulan Juni biasanya mahasiswa sudah bisa bergerak,” ujar dia.

Menurut dia, perguruan tinggi memiliki sumber daya berupa dosen, mahasiswa, laboratorium, hasil penelitian, serta berbagai inovasi yang dapat dilibatkan dalam pengelolaan gambut.

Keterlibatan mahasiswa diharapkan membuat hasil penelitian dan pengetahuan dari kampus dapat diterapkan untuk membantu penyelesaian persoalan di lapangan sekaligus memperkuat pengabdian kepada masyarakat.

Brian juga membuka peluang menghubungkan keterlibatan perguruan tinggi tersebut dengan program Tim Ekspedisi Patriot (TEP) yang dijalankan Kementerian Transmigrasi.

“Program Patriot itu juga mungkin kita bisa nanti bertiga (Kementerian Kehutanan, Kemendiktisaintek, dan Kementerian Transmigrasi), kita launching juga khusus untuk enam provinsi dalam topik atau dengan tema menjaga atau mengelola lahan gambut,” kata Brian.

Pada 2026, Kementerian Transmigrasi menerjunkan 1.476 peserta TEP yang tergabung dalam 246 tim ke 53 kawasan transmigrasi untuk melaksanakan riset, pendampingan, pemberdayaan, serta tindak lanjut pengembangan potensi kawasan.TEP 2026 melibatkan 10 perguruan tinggi mitra utama, yakni Institut Teknologi Bandung, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, IPB University, Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Universitas Diponegoro, Universitas Padjadjaran, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya, dan Universitas Hasanuddin.

Anggaran TEP 2026 mencapai Rp226 miliar, meningkat dari Rp176 miliar pada tahun sebelumnya.

Fokus program tahun ini tidak hanya pada riset dan pemetaan potensi, tetapi juga aksi nyata, termasuk pendampingan masyarakat serta pengembangan kegiatan ekonomi di kawasan transmigrasi.

Sementara itu, data Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi mencatat terdapat sekitar 10,75 juta mahasiswa terdaftar, dengan 3,34 juta orang atau 31,1 persen berada pada bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM).

Brian berharap kemampuan perguruan tinggi tersebut dapat digunakan untuk mendukung pengelolaan gambut melalui pendekatan berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, serta keterlibatan langsung dengan masyarakat.

Ia juga menyatakan peran akademisi dan masyarakat perlu mendapat ruang dalam kelembagaan BPGMN yang tengah disiapkan pemerintah.

“Kelembagaan yang kita bangun tentu perlu memberikan ruang agar kemampuan untuk memanfaatkan atau melibatkan para ahli dan masyarakat itu dapat berjalan. Saya yakin di dalam rumusan ini sudah dimasukkan juga peran yang bisa dilakukan nanti oleh para akademisi dan juga oleh masyarakat," kata Brian.