Ia menekankan bahwa pendekatan edukasi kesehatan reproduksi tidak bisa disamakan dengan masa lalu. Anak-anak saat ini sejak usia dini telah berinteraksi dengan teknologi dan algoritma media sosial yang memengaruhi informasi yang mereka terima.

Wihaji menegaskan, paradigma mengenai keluarga berencana (KB) saat ini tidak bisa hanya dipahami sebatas tentang kontrasepsi belaka, tetapi juga dampak KB terhadap kesehatan fisik, mental, hingga ekonomi.

"Semangat dari kontrasepsi itu memastikan bahwa apa yang ada pada diri kita bisa turut menjaga kesehatan fisik, mental, dan ekonomi. Itu semangat keluarga berencana yang pendekatannya dengan metode kontrasepsi," ujar dia.

Oleh karena itu, metode komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) mengenai kesehatan reproduksi perlu disesuaikan dengan usia dan kondisi penerima, termasuk bagi remaja, dengan pendekatan lebih inklusif mengusung prinsip tidak ada satupun yang tertinggal atau no one left behind, termasuk teman-teman disabilitas.