Menurut dia, pemahaman masyarakat perlu diperkuat agar keluarga bersedia menjalani intervensi sejak dini, terutama sebelum anak mengalami stunting karena peluang pemulihan anak yang sudah mengalami stunting lebih terbatas dibandingkan dengan upaya pencegahan.
Selain stigma, ia mengemukakan, tantangan lainnya berupa persepsi sebagian pemerintah daerah yang merasa wilayahnya tidak memiliki angka stunting tinggi, sehingga penanganan keluarga berisiko belum menjadi prioritas.
Ia juga menyebutkan sejumlah persoalan yang membutuhkan edukasi berkelanjutan, seperti praktik pernikahan dini yang sering dianggap sebagai solusi untuk menghindari pergaulan bebas serta keterbatasan akses terhadap air bersih.