NADIKABAR.COM β Menteri Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) Teuku Riefky Harsya menekankan pentingnya keterlibatan akademisi dalam penyusunan Jakarta Vision sebagai upaya memperkuat gagasan ekonomi kreatif Indonesia yang berbasis pengetahuan, riset, dan inovasi.
Menurut Teuku Riefky, kontribusi perguruan tinggi diperlukan agar Jakarta Vision yang akan dibawa Indonesia ke tingkat global memiliki fondasi akademis yang kuat.
βJakarta Vision harus ditopang gagasan akademis. Kita membutuhkan ruang untuk berdiskusi, menguji gagasan, dan membangun kesamaan arah agar ekonomi kreatif Indonesia semakin kuat dan mampu mengambil peran strategis di tingkat global,β ujar Teuku Riefky dalam keterangan yang diterima, di Jakarta, Sabtu.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam rangkaian Road to World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 melalui Creative Consortium Summit & Innovation Challenge (CCSIC) 2026 yang diselenggarakan Konsorsium Perguruan Tinggi (KPT) Ekraf.
Riefky mengatakan Jakarta Vision memiliki posisi strategis karena akan menjadi salah satu landasan penyusunan Resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) terkait ekonomi kreatif dalam Sidang Majelis Umum PBB (United Nations General Assembly).
Karena itu, substansi Jakarta Vision perlu dibangun melalui kolaborasi lintas pemangku kepentingan, termasuk perguruan tinggi yang memiliki kapasitas dalam riset, pengembangan inovasi, serta penyediaan basis pengetahuan.
βKeberhasilan Indonesia bukan hanya diukur dari penyelenggaraan WCCE 2026, tetapi juga dari key output berupa Jakarta Vision yang dapat menawarkan gagasan dan arah baru bagi perkembangan ekonomi kreatif global,β katanya.
Jakarta Vision mencakup empat klaster utama, yakni teknologi, kecerdasan artifisial (AI) dan transformasi digital; keberlanjutan, ekonomi sirkular dan desain regeneratif; inklusivitas dan pemberdayaan masyarakat; serta perlindungan kekayaan intelektual (KI) yang berimbang bagi para kreator.
Keterlibatan perguruan tinggi juga dinilai relevan dengan besarnya peran ekonomi kreatif dalam penciptaan lapangan kerja dan pengembangan talenta muda.
Pada 2025, sektor ekonomi kreatif tercatat menyerap sekitar 27,4 juta tenaga kerja. Dari jumlah tersebut, sekitar 63 persen berasal dari Generasi Z dan Milenial, sementara 58 persen merupakan pekerja perempuan.
CCSIC 2026 yang dihadiri lebih dari 100 pemangku kepentingan turut memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan perguruan tinggi dalam pengembangan ekonomi kreatif.
Dalam kegiatan tersebut dilakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Konsorsium Perguruan Tinggi (KPT) Ekraf dengan Universitas Multi Data Palembang, Universitas Santo Borromeus, dan Politeknik Manahijul Huda.
Forum tersebut juga memberikan penghargaan kepada enam pemenang kompetisi inovasi teknologi serta menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Dr. Dwinita Larasati selaku Executive Committee ICCN dan Ketua Program Studi Magister Desain FSRD ITB serta Wahyu Wijayanto selaku Direktur Pariwisata, Ekonomi Kreatif, dan Ekonomi Digital, Kementerian PPN/Bappenas.
Melalui CCSIC 2026, pemerintah dan perguruan tinggi mendorong kolaborasi untuk memperkaya substansi Jakarta Vision dengan perspektif akademis, riset, dan inovasi sekaligus memperkuat kontribusi Indonesia dalam membangun agenda ekonomi kreatif global.