NADIKABAR.COM — Menteri Ekonomi Kreatif (Menekraf) Teuku Riefky Harsya bersama lembaga riset independen Indonesia Fasilitator (InFast) Bestari mendorong pemanfaatan teknologi blockchain untuk memperluas akses pembiayaan bagi pelaku ekonomi kreatif dan penciptaan lapangan kerja berkualitas bagi kelas menengah.
Riefky mengatakan ekonomi kreatif (ekraf) memiliki peran strategis dalam menjawab tantangan penciptaan lapangan kerja bagi generasi muda sekaligus menopang masyarakat kelas menengah melalui peningkatan pendapatan dan daya beli.
"Saat ini, sekitar 63 persen dari 27,4 juta pekerja ekonomi kreatif merupakan generasi Z dan milenial. Artinya, tiap subsektor ekraf memiliki potensi besar untuk membuka lapangan kerja sekaligus menjadi salah satu penopang kelas menengah melalui peningkatan pendapatan dan penguatan daya beli masyarakat," kata Riefky dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Rabu.
Menurut dia, penguatan ekosistem pembiayaan menjadi salah satu hal penting untuk mendorong pertumbuhan pelaku ekraf. Untuk itu, Kementerian Ekonomi Kreatif mendorong kolaborasi antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas, media, dan lembaga keuangan melalui pendekatan heksaheliks.
Dalam skema tersebut, teknologi digital seperti blockchain dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari upaya menghadirkan alternatif pembiayaan bagi pelaku ekonomi kreatif. Pemanfaatan teknologi tersebut diarahkan untuk mendukung penguatan akses pendanaan, terutama bagi pelaku ekraf yang selama ini menghadapi hambatan permodalan dalam mengembangkan usaha dan melakukan hilirisasi karya.
"Kami ingin menghadirkan terobosan pembiayaan yang memanfaatkan perkembangan teknologi digital seperti blockchain untuk memperkuat ekosistem ekonomi kreatif Indonesia," kata Riefky.
Dia menyebut pengembangan skema tersebut dapat dikolaborasikan dengan Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), termasuk melalui sejumlah program seperti Ekraf Data dan Dana Ekraf.
Kementerian Ekonomi Kreatif juga melihat penguatan pembiayaan ekraf tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan usaha, tetapi memiliki keterkaitan dengan keberlanjutan kelas menengah. Dengan akses pendanaan yang lebih luas, pelaku usaha kreatif diharapkan dapat mengembangkan kapasitas produksi, menciptakan pekerjaan, dan meningkatkan pendapatan.
Dalam pertemuan tersebut, InFast Bestari turut menyoroti kondisi kelompok kelas menengah yang rentan secara ekonomi. Direktur Riset dan Database InFast Bestari Hizkia Yosias Polimpung menyebut kelompok tersebut sebagai the missing middle, yakni masyarakat yang tidak masuk dalam kelompok penerima bantuan sosial tetapi menghadapi tekanan ekonomi.
"Teman-teman kelas menengah ini terlalu kaya untuk diberi bansos, tetapi terlalu miskin untuk disebut hidup layak. Ini yang kami usulkan harus diberi scaffolding, bantalan supaya tingkat ekonomi mereka jangan jeblok lagi,” ujar Hizkia.
Penguatan akses pembiayaan bagi ekraf menjadi salah satu bagian dari upaya tersebut. Dengan dukungan pembiayaan dan ekosistem usaha yang lebih kuat, industri kreatif diharapkan dapat menjadi salah satu sumber pertumbuhan lapangan kerja sekaligus menopang konsumsi masyarakat kelas menengah.
Pembahasan mengenai pemanfaatan blockchain tersebut selanjutnya akan dibawa dalam Simposium Nasional "Ekosistem Koperasi Urban Berbasis Blockchain: Strategi Pertumbuhan Ekonomi Berbasis Kelas Menengah Kreatif Perkotaan" yang digelar pada 30 September 2026.
Forum tersebut diproyeksikan mempertemukan sekitar 300-400 pemangku kepentingan untuk membahas pengembangan ekosistem ekonomi berbasis koperasi, teknologi blockchain, dan kelas menengah kreatif perkotaan.