Pengembangan nilai ekonomi berbasis karya juga terlihat melalui kolaborasi IFDC dengan Pagelaran Sabang Merauke dalam instalasi “Hikayat Nusantara”. Sebanyak 12 desainer menerjemahkan kekayaan budaya Nusantara ke dalam karya fesyen kontemporer.

Rangkaian kegiatan tersebut turut menampilkan “Kanvas Budaya” melalui peragaan busana “SATU NAPAS” yang mengeksplorasi perpaduan Batik Kudus dan denim karya 23 desainer.

Head of Business Development IFDC Ivan Gunawan mengatakan pengembangan ekosistem fesyen perlu diikuti dengan peningkatan apresiasi masyarakat terhadap karya lokal.

“Melalui pameran di jantung ibu kota ini, kita tidak hanya menggerakkan ekonomi kreatif dan memberdayakan UMKM, tetapi juga membangun ekosistem fesyen baru yang mengedukasi masyarakat,” kata Ivan.

Ia berharap peningkatan apresiasi terhadap karya lokal dapat mendorong masyarakat semakin mengenal dan mencintai produk fesyen Indonesia.

Kemenekraf melihat subsektor fesyen memiliki ruang pengembangan yang luas, terutama dengan menghubungkan kreativitas, kekayaan budaya, pengembangan desainer, UMKM, dan akses pasar agar karya fesyen Indonesia semakin memiliki nilai ekonomi di dalam maupun luar negeri.