NADIKABAR.COM — Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menilai subsektor fesyen memiliki peran penting dalam membuka peluang ekonomi berbasis karya sekaligus memperkuat daya saing produk kreatif Indonesia di pasar global.
Riefky mengatakan fesyen tidak hanya berkaitan dengan tren, tetapi juga menjadi ruang yang mempertemukan talenta, keterampilan, inovasi, dan kekayaan budaya Indonesia yang dapat menciptakan nilai ekonomi.
“Di balik setiap karya fesyen terdapat talenta, keterampilan, inovasi, serta cerita tentang identitas Indonesia. Karena itu, fesyen memiliki peran penting dalam memperkuat ekosistem ekonomi kreatif sekaligus membuka peluang ekonomi yang lebih luas,” ujar Riefky dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat.
Menurutnya, kekuatan fesyen Indonesia tidak hanya terletak pada kreativitas desainer, tetapi juga pada kekayaan budaya yang menjadi sumber inspirasi dalam menghasilkan produk bernilai tambah.
Potensi tersebut tercermin dari kontribusi subsektor fesyen terhadap ekspor ekonomi kreatif Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Kemenekraf, fesyen menyumbang 58,55 persen atau senilai 5,85 miliar dolar AS terhadap ekspor ekonomi kreatif, meningkat dibandingkan periode sebelumnya sebesar 5,58 miliar dolar AS.
Di sisi lain, subsektor fesyen juga berkontribusi 14,77 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) ekonomi kreatif dengan pertumbuhan sebesar 5,07 persen.
Riefky menilai capaian tersebut menunjukkan masih terbukanya ruang bagi produk fesyen nasional untuk dikembangkan, baik melalui penguatan kreativitas maupun perluasan akses pasar internasional.
Karena itu, Kemenekraf mendorong penguatan ekosistem fesyen agar karya yang dihasilkan para desainer dan pelaku usaha tidak berhenti sebagai produk kreatif, tetapi dapat dikembangkan menjadi sumber nilai tambah ekonomi yang berkelanjutan.
“Fesyen Indonesia memiliki kekuatan yang luar biasa, bukan hanya dari segi kualitas dan kreativitas, tetapi juga kekayaan budaya yang senantiasa menjadi sumber inspirasinya,” kata Riefky.
Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui kolaborasi dengan Indonesian Fashion Designer Council (IFDC/IPMI) dalam penyelenggaraan Gaya Archive Chapter 4.
Kegiatan yang berlangsung pada 18–27 September 2026 itu menghadirkan arsip karya busana dari 23 desainer yang diterjemahkan dalam instalasi empat musim, yakni Spring, Summer, Autumn, dan Winter.
Menurut Riefky, ruang seperti Gaya Archive dapat membantu memperkenalkan perjalanan karya dan kreativitas desainer Indonesia kepada masyarakat sekaligus membuka peluang agar produk lokal semakin dikenal dan dikembangkan.
“Kolaborasi ini diharapkan membuka ruang bagi karya kreatif Indonesia untuk tidak hanya diciptakan, tetapi juga dikenal, diapresiasi, dikembangkan, dan memberi nilai tambah bagi masyarakat,” ujarnya.
Pengembangan nilai ekonomi berbasis karya juga terlihat melalui kolaborasi IFDC dengan Pagelaran Sabang Merauke dalam instalasi “Hikayat Nusantara”. Sebanyak 12 desainer menerjemahkan kekayaan budaya Nusantara ke dalam karya fesyen kontemporer.
Rangkaian kegiatan tersebut turut menampilkan “Kanvas Budaya” melalui peragaan busana “SATU NAPAS” yang mengeksplorasi perpaduan Batik Kudus dan denim karya 23 desainer.
Head of Business Development IFDC Ivan Gunawan mengatakan pengembangan ekosistem fesyen perlu diikuti dengan peningkatan apresiasi masyarakat terhadap karya lokal.
“Melalui pameran di jantung ibu kota ini, kita tidak hanya menggerakkan ekonomi kreatif dan memberdayakan UMKM, tetapi juga membangun ekosistem fesyen baru yang mengedukasi masyarakat,” kata Ivan.
Ia berharap peningkatan apresiasi terhadap karya lokal dapat mendorong masyarakat semakin mengenal dan mencintai produk fesyen Indonesia.
Kemenekraf melihat subsektor fesyen memiliki ruang pengembangan yang luas, terutama dengan menghubungkan kreativitas, kekayaan budaya, pengembangan desainer, UMKM, dan akses pasar agar karya fesyen Indonesia semakin memiliki nilai ekonomi di dalam maupun luar negeri.