NADIKABAR.COM — Sampah bagi sebagian orang mungkin hanyalah sesuatu yang harus segera dibuang, namun, di sejumlah sudut Kota Makassar, botol plastik, kardus, kertas, hingga kemasan bekas justru dipandang sebagai sesuatu yang masih memiliki nilai.

Di tangan warga dan pengelola bank sampah, benda-benda yang selama ini dianggap tidak berguna itu dapat berubah menjadi rupiah, beras, bahkan emas.

Perubahan cara pandang tersebut tidak datang dalam semalam. Di Ballaparang, Kecamatan Rappocini, misalnya, upaya membangun kesadaran masyarakat terhadap sampah telah dimulai sejak 2009. Dua tahun kemudian, bank sampah unit (BSU) pertama lahir pada 2011.

Saharuddin Ridwan, seorang penggerak bank sampah yang berlatar belakang jurnalis, menjadi salah satu sosok yang ikut mendorong perubahan itu di tengah masyarakat yang sebagian besar berstatus ekonomi prasejahtera.