Warga yang sebelumnya kurang peduli terhadap sampah perlahan mulai mengumpulkan sampah anorganik untuk ditukar dengan uang atau beras. Setiap transaksi dicatat dalam buku bank sampah, sehingga sampah yang sebelumnya berakhir sebagai limbah mulai memiliki nilai ekonomi.
Dari sembilan unit bank sampah yang beroperasi pada 2011, jumlahnya berkembang menjadi 43 unit setahun kemudian. Program βsampah tukar berasβ ikut menarik minat warga.
Perkembangan itu terus berlanjut. Data UPT Bank Sampah Pusat Kota Makassar mencatat bank sampah aktif mencapai 91 unit pada 2021-2022, meningkat menjadi 316 unit pada 2023 dan 348 unit pada 2024. Data Dinas Lingkungan Hidup Makassar kemudian mencatat jumlah BSU mencapai 433 unit pada 2025 dan meningkat menjadi 670 unit pada pertengahan 2026 yang tersebar di 15 kecamatan.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sampah mulai bergerak dari sekadar kegiatan lingkungan menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat.