9. Terowongan Sasaksaat – Jawa Barat (1902–1903)
Terowongan sepanjang 949 meter ini dibangun pada lintas Purwakarta–Padalarang. Catatan sejarah KAI menyebut penggalian dilakukan dari dua sisi bukit. Ketika ditemukan batuan cadas, pekerjaan pengeboran dilakukan secara manual karena penggunaan bahan peledak dan mesin dikhawatirkan mengganggu kestabilan tanah. Penerangan listrik dari dinamo juga digunakan untuk mendukung pekerjaan.
10. Terowongan Batulawang – Jawa Barat (1914)
Terowongan dengan panjang historis sekitar 281,5 meter ini berada pada bekas jaringan kereta api Banjar–Cijulang. Jalur tersebut dibangun untuk menghubungkan kawasan selatan Jawa Barat dengan jaringan transportasi yang lebih luas. Kini, peninggalannya menjadi bagian dari sejarah jalur kereta api yang sudah tidak beroperasi.
Kisah pembangunan terowongan tersebut berlangsung pada periode penting perkembangan teknologi perkeretaapian dunia. Terowongan Gotthard di Swiss sepanjang sekitar 15 kilometer dibuka pada 1882, sementara Terowongan Simplon sepanjang sekitar 19,8 kilometer mulai beroperasi pada 1906. Pada masa yang berdekatan, pembangunan terowongan di Indonesia menghadapi tantangan medan tropis, perbukitan, serta kebutuhan transportasi di berbagai wilayah.
Di Sumatera Barat, keterkaitan perkeretaapian dengan sejarah industri dunia juga memperoleh pengakuan melalui Warisan Tambang Batu Bara Ombilin Sawahlunto, yang ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO pada 2019. Situs tersebut mencakup sistem pertambangan, jaringan transportasi kereta api, dan fasilitas pelabuhan yang berkembang pada masa kolonial. Sejarah pembangunannya juga berkaitan dengan pengalaman para pekerja, termasuk buruh paksa, yang penting dipahami sebagai bagian dari konteks sosial pada zamannya.
Anne menjelaskan bahwa peninggalan tersebut dapat menjadi sumber pembelajaran lintas bidang, mulai dari teknik sipil, geologi, transportasi, sejarah ekonomi, hingga hubungan perdagangan internasional. Pengelolaan informasi sejarah dan dokumentasi menjadi penting agar masyarakat dapat mengenal peninggalan tersebut sesuai konteks dan nilai budayanya.
“Dari terowongan di Jawa hingga jalur pertambangan bersejarah di Sumatera, kita dapat melihat bagaimana pembangunan transportasi pada masa lalu berkaitan dengan perkembangan teknologi dan ekonomi dunia. Ada pula cerita sosial yang perlu dipahami secara utuh. Kami berharap warisan perkeretaapian ini terus menjadi bahan pembelajaran bagi generasi muda untuk mengenal sejarah Indonesia dari berbagai sudut,” jelas Anne.
Memasuki 159 tahun perkeretaapian Indonesia pada 2026, pengenalan sejarah terowongan menjadi salah satu cara memahami perjalanan panjang transportasi rel di Indonesia. Sebagian peninggalan masih berada pada jaringan aktif, sementara lainnya merupakan bagian dari bekas lintas bersejarah. Keduanya memiliki nilai dokumentasi dan pendidikan yang perlu diperhatikan.
“Sejarah perkeretaapian Indonesia menyimpan banyak pengetahuan yang masih relevan untuk dipelajari. Melalui arsip, dokumentasi, museum, dan kolaborasi dengan berbagai pihak, KAI ingin membantu masyarakat mengenal perjalanan teknologi transportasi dari masa ke masa. Setiap peninggalan mempunyai cerita, dan cerita itu patut diteruskan kepada generasi berikutnya,” tutup Anne.