Kami tiba di kawasan Goa Garunggang sekitar pukul 10.03–10.06. Pemandangan luarnya saja sudah luar biasa: bongkah-bongkah batu berlapis, lorong sempit menyerupai labirin, akar pohon mencengkeram celah, dan guratan yang seperti dipahat tangan raksasa.
Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kabupaten Bogor menyebut labirin batu itu terbentuk oleh kikisan aliran air. Sebagian promosi wisata menjulukinya “Grand Canyon mini”, kayak yang di Amerika sono (Upps, dulu saya bersama keluarga saat domisili di Negeri Paman Sam tentu sudah ke Grand Canyon sungguhan). Tapi itu perbandingan yang menggoda mata, walau tentu bukan klasifikasi geologi. Jauh bangetlah.
Penelitian Universitas Negeri Jakarta memberi gambaran yang lebih terukur. Pemetaan mereka menemukan dua sistem goa yang mayoritas mendatar dan berair. Sistem pertama dipetakan sepanjang 95,12 meter, sedangkan sistem kedua mencapai 353,65 meter, dengan beberapa pintu masuk dan aven (lubang pada atap lorong). Para peneliti membedakan jalur untuk wisatawan umum, wisatawan khusus, dan tujuan pendidikan. Jadi, kunjungan kami sedalam belasan meter hanyalah cuplikan kecil dari jaringan yang lebih panjang dan kompleks.
Secara geologi, penelitian Universitas Nusa Bangsa menggolongkan Garunggang sebagai goa karst batu gamping. Karst ialah bentang alam pada batuan yang mudah larut; air yang menyerap karbon dioksida menjadi sedikit asam lalu perlahan melarutkan kalsium karbonat. Proses panjang itu membuka celah, lorong, aliran bawah tanah, sekaligus membentuk ornamen goa. Air bukan sekadar penghuni Garunggang. Ia adalah pemahatnya.
Pintu masuk berada di bawah permukaan. Tangga besi curam mengantar kami turun. Karena ruangnya sempit, gelap dan awal lintasan menukik, ransel serta tongkat saya lepaskan sejak awal di atas tadi. Romli menyewa senter dengan sorot lebar. Keputusan kecil itu sangat membantu untuk melihat pijakan yang basah, kontur dinding, dan detail batu saat memotret. Tanpa senter sewaan, zonk sajalah, tak bisa melihat apa-apa, apalagi foto-foto kan.
Di dalam, gemercik aliran kecil menemani langkah. Cahaya menyingkap lipatan dan tonjolan batu, stalaktit yang menggantung, serta permukaan dinding yang basah. Di langit-langit, kelelawar bergelantungan manja, anteng dalam rumah gelap mereka. Penelitian fauna Universitas Nusa Bangsa pada Pintu Masuk 3 mencatat spesies kelelawar Hipposideros galeritus berjumlah 107 individu atau sekitar 35,4 persen dari seluruh temuan. Angka itu membuat kerumunan kelelawar yang kami lihat terasa sebagai bagian penting dari ekosistem, bukan hiasan wisata.
Habitat goa Garunggang mempunyai zona terang, peralihan, gelap, dan gelap total. Lorongnya memiliki aliran bawah tanah; pada musim hujan, bagian tertentu dapat dipenuhi air. Karena itu, pemandu, cuaca, dan penerangan bukan pelengkap. Saya melihat beberapa pengunjung nekat masuk tanpa senter lalu kerepotan di kegelapan. Romli berkenan menyapukan cahayanya ke jalur mereka. Kebaikan sederhana itu mungkin mencegah kaki mereka salah menapak.
Kami masuk sekitar 15 meter, cukup untuk merasakan dingin, lembap, gelap, bunyi air, dan denyut kehidupan goa. Foto-foto sejenak. Setelah itu kami berbalik, kembali ke mulut Goa yang sama, lalu memanjat tangga besi. Sekitar pukul 10.24 saya sudah berada di atas. Pendek kunjungannya, panjang kesannya. Goa Garunggang bukan tempat yang layak ditaklukkan dengan gaduh; ia lebih pantas dihormati dengan langkah hati-hati, suara rendah, dan tangan yang tidak merusak ornamen. Grafiti jangan sampai lah.
Pukul 10.35, kelapa muda menjadi hadiah setelah menuruni dan menaiki perut bumi. Dagingnya disendok, airnya diminum sampai tuntas. Sambil beristirahat, saya memandang kembali batu-batu bergerigi yang tadi kami susuri. Bagus dan benar-benar layak: bukan hanya untuk dilihat, melainkan untuk dialami. Di luar Goa Garunggang, berserak bongkahan batu-batu besar terukir. Ini mungkin asal mula sebutan mini grand Canyon itu.
Dari sawah menuju pijatan Sungai Ciherang
Perjalanan dilanjutkan melalui kebun, jalur bebatuan, dan persawahan. Saluran air kecil yang bersumber dari sungai menghidupi petak-petak sawah. Pada sekitar pukul 12.04 kami berada di lanskap sawah dengan Gunung Pancar dan perbukitan sebagai latar. Padi muda memantulkan cahaya; di sisi lain terlihat lahan singkong, rumpun serai, pisang, dan tanaman kebun. Inilah kekayaan lintas alam Sentul: dalam beberapa jam, medan berganti dari kampung, kebun, pinus, karst, sawah, hingga sungai.
Kami mencapai Sungai Ciherang sekitar pukul 13.35. Mula-mula saya hanya berfoto dengan latar air dan mencelupkan kaki. Kesegarannya menggoda. Beberapa menit kemudian saya pun turun. Arus deras air dan kebeningannya sangat memanggil, maka saya pun menyemburkan diri. Byuuurrr. Segar sekali. Arus deras air menghantam tubuh penat ini di sela bongkah batu. Masya Allah, segar sekali!
Arus yang deras itu bekerja seperti tukang pijat alam. Kepala, pundak, bahu, lengan, sampai pinggang terasa dikusuk dan ditekan berulang-ulang. Pegal setelah berjalan seolah hanyut bersama air. Tentu pengalaman itu bukan terapi medis, tetapi sensasi segar dan lega yang saya rasakan nyata. Sungai memulihkan suasana hati dengan caranya sendiri: dingin, gaduh, langsung, tanpa basa-basi.