Seusai berendam, saya naik ke bongkah batu kali besar semacam andesit dengan berpermukaan landai melebar. Itulah batu tempat saya berjemur, keren dan nyaman sekali.. Permukaannya panas oleh matahari siang. Setelah tubuh diguyur air gunung yang dingin, rebah di batu hangat sambil mengeringkan badan dan celana menghadirkan nikmat yang sukar dijelaskan. Ya Allah, segar dan bugar sekali tubuh ini.

Kegembiraan semacam itu jelas ada dasar pijakan ilmiahnya, meski tidak perlu dibesar-besarkan menjadi obat segala penyakit. Yoshifumi Miyazaki, profesor emeritus di Chiba University, Jepang, dan penulis Shinrin-yoku: The Japanese Way of Forest Bathing for Health and Relaxation (cara Jepang menikmati suasana hutan untuk kesehatan dan relaksasi), meneliti respons manusia terhadap alam.

Eksperimen timnya pada 280 orang di 24 hutan Jepang mendapati lingkungan hutan berkaitan dengan kadar kortisol, denyut nadi, dan tekanan darah yang lebih rendah serta aktivitas saraf penenang tubuh yang lebih tinggi dibandingkan lingkungan kota. Saat berangkat pagi trekking, isteri saya flu dan bindeng berat. Pulangnya sembuh total, Ya, trekking itu menyehatkan.

Trekking menambahkan kerja fisik pada pengalaman indrawi itu: jantung dan paru-paru terlatih, otot kaki dan inti tubuh bekerja, tulang menerima beban yang berguna, keseimbangan diasah, pikiran beristirahat dari rutinitas, dan kebersamaan memperoleh ruang.

Bagi kami yang pasca-50, manfaatnya terasa pada daya tahan, kelenturan, kepercayaan diri, tidur, suasana hati, serta kemampuan menjaga kemandirian. Intensitas tetap harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing, terutama bagi yang mempunyai penyakit atau keterbatasan gerak.

Organisasi Kesehatan Dunia mencatat 31 persen orang dewasa dunia—sekitar 1,8 miliar orang—tidak memenuhi anjuran aktivitas fisik pada 2022; kelompok usia di atas 60 tahun cenderung lebih tidak aktif. Anjurannya sedikitnya 150 menit aktivitas sedang atau 75 menit aktivitas berat per minggu, ditambah latihan kekuatan dan, bagi usia lanjut, latihan keseimbangan. Angka itu membuat langkah di jalur bukan sekadar rekreasi. Ia dapat menjadi bagian dari kebiasaan hidup aktif, selama dilakukan rutin, aman, dan sesuai kemampuan.

Sekitar pukul 14.21 kami kembali melewati tepian sawah dan aliran berbatu. Sensasi melewati jalan kecil di tepi dan tengah sawah, sungguh asyik. Saya ingat dulu saat SD pernah dibawa orang tua ke sawah di Mariah, Pematang Siantar. Tapi yang hari ini kami susuri dan panjang, tentu lebih luas dan berpanorama lebih indah. Pada pukul 14.34, kami berada di lereng kebun terbuka dengan punggung gunung di kejauhan. Tubuh yang tadinya letih kini terasa ringan setelah mandi sungai. Kami beranjak pulang, lalu berhenti untuk salat Asar.

Sekitar pukul 15.30, perjalanan ditutup di Warung Sunda Sambal Dower. Saya makan tanpa nasi: ikan lele, tahu dan tempe goreng, cumi saus Padang, seporsi terong balado, seporsi gulai jengkol, serta lalapan selada. Semua itu menu pilihan saya sendiri makanya ludes. Namanya juga makan siang telat. Boleh jadi karena sambal bawangnya begitu menggugah selera hingga saya menambah dua kali. Istri memesan lauk-lauk lain—tidak sama dengan saya—dan kami menertawakan selera masing-masing.

Capek berjalan hampir 11 kilometer, turun ke goa, disiram air gunung, dihangatkan batu matahari, lalu disambut makanan lezat: sehari itu seperti rangkaian nikmat yang tersusun rapi.

Goa Garunggang mengajarkan bahwa keindahan kadang tersembunyi di bawah kaki. Sungai Ciherang mengingatkan bahwa kesegaran dapat datang dari keberanian sederhana untuk menceburkan diri. Dan jalur pulang menegaskan satu hal: pada usia berapa pun, selama tubuh dijaga dan langkah diukur, alam masih menyediakan banyak pintu untuk merasa hidup.

Ya Allah, nikmat mana lagi yang hendak kami dustakan?

*) Dr. Ramadhan Pohan, MIS, Wartawan, Pengajar S-2, Petualang Pasca 50-an, mantan Pimpinan Komisi I DPR-RI)