NADIKABAR.COM — Sabtu, 3 Oktober 2026, tujuan kami jelas: menuntaskan lintas alam Goa Agung Garunggang dan Sungai Ciherang.
Paket awal trip menyebut jarak sekitar tujuh sampai delapan kilometer. Namun, Guide Romli mengatakan dia memperpanjang rute. Dan jam pintar (smartwatch, arloji pencatat aktivitas) saya merekam sekitar 13.000 langkah.
Berdasarkan catatan itu serta keterangan pemandu, jarak aktual perjalanan kami diperkirakan mendekati 11 kilometer—bukan konversi mutlak. Sebab panjang langkah setiap orang berbeda.
Goa Garunggang berada di Desa Karang Tengah, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Dari titik temu di kawasan Jungleland, Sentul, rute membawa kami melewati Leuwi Asih, Kampung Lande, Kampung Cigobang, persawahan, kebun singkong, serai wangi, kopi, hutan pinus, kawasan yang oleh pengelola disebut “Hutan Hujan”, Goa Garunggang, lalu Sungai Ciherang sebelum kembali ke titik kendaraan.
Paketnya berupa pemandu, dokumentasi standar, perizinan, tongkat trekking (tongkat bantu lintas alam), jas hujan, perlengkapan pertolongan pertama, asuransi, dan air mineral termasuk di dalamnya.
Rundown (susunan acara) kiriman pemimpin guide Egi sebenarnya menargetkan pertemuan pukul 06.00–07.00 dan mulai berjalan sekitar 07.30. Namun, seperti lazimnya perjalanan alam, waktu di kertas kadangkala cuma sekadar rambu belaka. Kecepatan kaki, jeda memotret, cuaca, dan dinamika situasi kondisi perjalanan lah yang lebih menentukan iramanya.
Egi sebelumnya memberi kabar melalui WhatsApp bahwa jalur aman dan diperkirakan tidak terlalu licin karena hari itu tidak turun hujan. Ia juga menjelaskan bahwa lintasan lebih banyak menembus kebun singkong, serai, kopi, hutan pinus, dan sawah. Untuk masuk ke bagian Goa Garunggang yang didatangi pengunjung, kami hanya akan menyusuri kira-kira 10–15 meter, kemudian keluar melalui jalan yang sama. Informasi singkat itu kelak terbukti sangat berguna.
Setelah ke toilet, melakukan pemanasan, dan memastikan perlengkapan, saya dan istri memulai trekking sekitar pukul 07.53 WIB. Kali ini yang mendampingi kami Romli, adik Egi. Egi adalah pemandu yang pernah menemani kami dalam petualangan Sentul sebelumnya. Ini bukan kali pertama kami menapaki bukit-bukit Sentul; jumlahnya sudah lebih dari selusin. Meski begitu, tiap rute selalu menawarkan watak berbeda.
Pagi bergerak perlahan di antara rumah kampung dan ladang. Kami melewati Kampung Lande lalu Kampung Cigobang. Daun-daun singkong terbentang di lereng. Serai wangi yang jadi bahan minyak gosok tumbuh berbaris. Sambil berjalan saya sobek daunnya daun tercium wangi minyak angin GPU. Di beberapa bagian ada kopi dan sintrong, sayuran liar yang akrab sebagai lalapan Sunda. Hutan pinus memberi teduh, sedangkan dari bukaan lereng tampak punggung perbukitan yang disebut Puncak Dua.
Sekitar pukul 09.05, kami berhenti. Jam langkah menunjukkan 3.877 langkah. Teh, tempe, dan buah sederhana terasa istimewa ketika disantap setelah naik-turun jalur. Dari sini lintasan sempat landai, lalu ada dua kali tanjakan tajam dan panjang, kemudian berangsur menurun menuju Garunggang. Tanah kering membantu pijakan, tetapi akar, bebatuan, dan kontur miring tetap harus diwaspadai.
Di usia pasca-50, saya belajar bahwa ritme lebih penting daripada gengsi: langkah terukur, napas dijaga, air diminum sebelum haus. Jangan terlalu banyak minum supaya jangan kebelet. Jadi sekadar melepas dahaga dan kerongkongan kering saja, biasa pesan Egi.
Di kejauhan, Gunung Pancar menjadi latar yang menegaskan bahwa kami masih berada dalam bentang perbukitan Sentul. Adapun “Hutan Hujan” yang disebut dalam paket perjalanan perlu dipahami secara cermat.
Dalam ilmu ekologi, hutan hujan tropis (tropical rainforest, yakni ekosistem berhujan tinggi dengan tajuk vegetasi rapat) adalah tipe ekosistem, bukan satu spesies sehingga tidak memiliki nama ilmiah Latin tunggal. Pada rute ini, “Hutan Hujan” merupakan nama segmen lintasan yang dipakai operator. Kami menjumpai vegetasi lembap, kebun campuran, pinus, sawah, dan lahan garapan; saya tidak hendak mengubah sebutan paket itu menjadi klaim bahwa seluruh jalurnya merupakan hutan primer.