Ia menggambarkan masa itu seperti membangun sebuah peradaban. Para guru harus membentuk kebiasaan dan karakter anak-anak yang datang dengan latar belakang berbeda.

Pada awal sekolah dibuka, beberapa siswa sempat mencoba melompati pagar untuk keluar. Perkelahian antarsiswa juga pernah terjadi. Mereka belum terbiasa bangun pagi, mengikuti kegiatan belajar, beribadah, menjaga kebersihan, hingga menjalani berbagai aturan kehidupan asrama.

Afia bersama para guru memilih menghadapi proses tersebut secara perlahan.