Kini, pemandangan itu berubah. Siswa mulai terbiasa dengan rutinitas. Mereka menjaga lingkungan, menata barang, mengikuti pembelajaran, serta menjalani kegiatan sekolah tanpa lagi menganggapnya sebagai sesuatu yang harus dihindari.

"Sekarang, kalau anak lompat pagar sudah tidak ada lagi. Mereka sudah mulai merasa sekolah ini seperti rumah sendiri," ujar Afia.

SRMA 40 Ambon kini dihuni 93 siswa dari Kota Ambon dan sebagian wilayah Maluku Tengah. Mereka berasal dari keluarga yang masuk desil 1 dan 2, yakni kelompok masyarakat miskin dan miskin ekstrem.