Lanskap itu pula yang membuat pernyataan Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno terasa bertaut dengan keseharian. Saat menghadiri peringatan 130 tahun sastrawan Aman Datuk Madjoindo, ia menyebut Indonesia kehilangan banyak penulis cerita anak justru ketika anak-anak berada pada masa yang rawan dengan segala hal buruk penyalahgunaan teknologi.
Rano lantas mengenang perjumpaannya dengan Si Doel Anak Betawi, buku terbitan 1932 yang ia temukan pada usia sekitar delapan tahun di tumpukan paling bawah Balai Pustaka. Buku itu kelak mengantarnya ke layar perak, ke sinetron, dan, menurut pengakuannya sendiri, ke kursi wakil gubernur.
Riwayat itu memperlihatkan betapa panjang langkah sebuah cerita anak. Soalnya, cerita semacam itu kini kian sulit menemukan jalan ke tangan pembacanya yang paling belia.
Generasi yang beranjak dewasa pada dasawarsa pertama 2000-an mafhum betul bagaimana sebuah buku bisa menjelma buah bibir, serupa tren yang hari ini berputar di media sosial. Seleranya pun berganti bak musim. Romansa remaja ala Dealova sempat merajai, lalu tergantikan komedi catatan harian Raditya Dika, kemudian kisah perjuangan dan mimpi dalam Laskar Pelangi serta Negeri 5 Menara, hingga roman religi Ayat-Ayat Cinta.