NADIKABAR.COM — Perpustakaan Jakarta di kompleks Taman Ismail Marzuki, Cikini, menyimpan pemandangan yang kian jarang dijumpai di ruang publik. Di salah satu sudut perpustakaan, buku anak tertata rapi dalam belasan rak, layaknya sebuah toko buku. Di bagian lain area itu, ada sudut membaca yang cukup luas dengan berbagai pilihan: sofa empuk, meja bundar, lesehan, karpet, atau bahkan lantai langsung.

"Rusa tak hilang akal, dia berusaha memikirkan cara supaya bisa lepas dari jebakan serigala," seorang ibu membacakan cerita di buku kepada anak laki-lakinya yang masih TK, bak seorang pendongeng andal.

Di sisi lain, anak-anak yang lebih besar, mungkin seusia siswa SD, duduk bersila dan lebih tenang. Kepalanya tertunduk ke halaman cerita bergambar. Sebagian membaca berdua sambil sesekali terkikik pelan dengan tumpukan buku di sampingnya yang menanti dilahap. Anak yang lain masih ada mematung lama di depan rak, gamang memilih judul.

Di luar gedung, lanskapnya lain sama sekali. Di ruang tunggu, kedai makan, hingga teras rumah selepas jam sekolah, anak-anak acap tenggelam dalam gawai, bermain gim daring bersama kawan atau menggulir video pendek tanpa jeda. Penelitian Badan Pusat Statistik mencatat 42,25 persen anak usia dini di Indonesia telah menggunakan telepon seluler pada 2025. Angka itu baru memotret anak berusia nol hingga enam tahun. Kelompok yang lebih besar tentu lebih karib lagi dengan layar.