NADIKABAR.COM — Hong Kong, (ANTARA/PRNewswire)- Riset terbaru Sun Life Asia mengungkapkan bahwa ancaman terbesar terhadap keberlangsungan kekayaan dari generasi ke generasi mungkin bukan volatilitas pasar atau konflik keluarga, melainkan kesiapan penerima manfaat dalam mengelola harta yang mereka warisi. Meskipun perencanaan warisan semakin umum di Asia, hanya satu dari lima orang yang merasa benar-benar siap untuk mewariskan kekayaan mereka saat ini.
Laporan terbaru Passing the Torch: When legacy means more than money, menunjukkan bahwa pandangan masyarakat di Asia tentang warisan yang ingin mereka tinggalkan telah banyak berubah. Hampir tiga perempat (74%) responden berencana mewariskan nilai-nilai, pengetahuan, atau pelajaran hidup sebagai bagian dari rencana warisan mereka, selain aset finansial. Pada saat yang sama, 70% khawatir kekayaan mereka tidak akan bertahan hingga generasi berikutnya dan hanya 20% yang merasa benar-benar siap mewariskan kekayaan mereka saat ini. Hal ini semakin menegaskan bahwa warisan yang bertahan lintas generasi tidak hanya bergantung pada apa yang diwariskan, tetapi juga pada kesiapan generasi berikutnya untuk mengelolanya.
Studi tersebut juga menunjukkan bahwa perencanaan warisan semakin berkembang di seluruh kawasan. Proporsi masyarakat yang telah memiliki rencana warisan yang terdokumentasi sepenuhnya dan dikomunikasikan kepada pihak terkait meningkat lebih dari dua kali lipat, dari 10% pada 2025 menjadi 22% pada 2026. Sementara itu, mereka yang sama sekali belum memiliki rencana turun dari 31% menjadi 15%.
David Broom, Chief Client and Distribution Officer di Sun Life Asia, mengatakan: "Rencana warisan belum bisa dianggap lengkap hanya karena sudah dibuat secara tertulis. Rencana tersebut perlu memastikan seluruh keluarga memiliki pemahaman yang sama tentang tujuan kekayaan tersebut, prinsip yang menjadi pedoman dalam mengelolanya, serta bagaimana generasi berikutnya dapat melanjutkan tanggung jawab itu. Dengan begitu, rencana yang telah disusun tidak hanya berhenti di atas kertas, tetapi juga dapat diterapkan dan bertahan dalam jangka panjang."
Bagi sebagian besar keluarga, warisan bukan sekadar soal uang. Selain uang dan properti, keterampilan dan pendidikan (33%), nilai-nilai keluarga (32%), serta pelajaran hidup (31%) termasuk hal yang paling ingin diwariskan. Memberikan kesempatan melalui pendidikan dianggap sangat penting dan termasuk dalam tiga prioritas utama di kawasan ini (48%). Bahkan di antara mereka yang berencana mewariskan aset finansial, membiayai pendidikan (45%) menempati urutan setelah memenuhi kebutuhan pokok keluarga (52%) dan memberikan dukungan finansial kepada anggota keluarga semasa hidup (50%).
Hal yang ingin dicapai keluarga melalui kekayaan mereka juga menunjukkan gambaran yang sama. Enam dari 10 orang (61%) ingin kekayaan mereka membuka peluang jangka panjang bagi orang-orang yang mereka sayangi, sementara 52% ingin kekayaan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti tempat tinggal dan layanan kesehatan. Uang tetap penting, tetapi kini semakin dipandang sebagai sarana untuk memberikan rasa aman dan membuka peluang bagi generasi berikutnya, bukan sebagai warisan itu sendiri.
Perencanaan semakin matang, tetapi tingkat keyakinan masih tertinggal
Perencanaan semakin terstruktur, tetapi tingkat keyakinan belum meningkat seiring dengan perkembangannya. Jumlah orang yang memiliki rencana yang sepenuhnya terdokumentasi dan telah dikomunikasikan meningkat lebih dari dua kali lipat dalam setahun, dari 10% pada 2025 menjadi 22% pada 2026, sementara mereka yang sama sekali belum memiliki rencana turun dari 31% menjadi 15%. Namun, tingkat keyakinan belum meningkat dengan laju yang sama. Saat ini, hanya 20% yang merasa benar-benar siap, hampir tidak berubah dari 19% setahun lalu. Saran profesional turut berperan dalam meningkatkan kesiapan. Hampir separuh responden (46%) telah berkonsultasi dengan tenaga profesional mengenai perencanaan warisan, naik dari 37% pada 2025. Di antara mereka, 79% merasa siap secara finansial untuk mewariskan kekayaan mereka, dibandingkan dengan 44% dari mereka yang belum berkonsultasi dengan tenaga profesional, tetapi ingin melakukannya.