Kekhawatiran justru paling tinggi di kalangan mereka yang masih memiliki banyak waktu untuk melakukan perencanaan. Tiga perempat (76%) Gen Z dan Milenial khawatir kekayaan mereka tidak akan bertahan hingga generasi berikutnya, dibandingkan dengan 66% Gen X dan 59% Baby Boomer. Namun, generasi muda juga paling optimistis mengenai dampak kekayaan yang mereka wariskan. Sebanyak 65% Gen Z dan 67% Milenial yakin bahwa kekayaan yang mereka wariskan akan terus memberikan manfaat bagi generasi mendatang, dibandingkan dengan 51% Baby Boomer.
Setiap generasi cenderung menilai generasi lainnya memiliki literasi keuangan yang lebih baik. Lebih dari separuh (58%) Gen X dan Baby Boomer menilai anggota keluarga yang lebih muda lebih melek finansial daripada mereka, sementara 61% Gen Z dan Milenial justru berpandangan bahwa generasi sebelumnya lebih melek finansial.
Pandangan positif terhadap satu sama lain ini tetap diiringi kekhawatiran nyata mengenai kesiapan mereka. Kesiapan penerima manfaat dalam mengelola harta yang mereka warisi menjadi kekhawatiran terbesar keluarga, yang disebutkan oleh 52% dari mereka yang khawatir kekayaannya tidak akan bertahan, melampaui volatilitas pasar (49%) dan konflik terkait aset (44%). Lebih dari seperempat (27%) menyebut kurangnya literasi keuangan pada generasi berikutnya sebagai salah satu risiko terbesar terhadap keberlangsungan kekayaan keluarga, sementara 25% lainnya khawatir generasi berikutnya tidak memiliki keyakinan yang cukup untuk mengelola kekayaan yang akan mereka terima. Para penasihat semakin berperan dalam membantu keluarga memulai pembicaraan mengenai hal-hal tersebut. Empat dari 10 orang mengatakan bahwa komunikasi dengan generasi berikutnya telah dilakukan, setidaknya sebagian, melalui penasihat keuangan, meningkat dari 15% pada 2025.
David Broom menambahkan: "Mewariskan kekayaan mungkin merupakan keputusan yang cukup mudah, tetapi mempersiapkan seseorang untuk mengelolanya membutuhkan proses yang jauh lebih panjang. Keluarga yang melibatkan generasi berikutnya sejak dini dapat memanfaatkan pembicaraan tersebut untuk membangun kemampuan dalam mengambil keputusan finansial, memperjelas ekspektasi, dan mengurangi ketidakpastian sebelum tanggung jawab beralih kepada mereka. Penasihat keuangan tepercaya dapat membantu keluarga menjalani pembicaraan tersebut dengan lebih yakin dan mewujudkan niat baik menjadi rencana yang dipahami oleh seluruh anggota keluarga."
Bagi keluarga kaya, mengelola kompleksitas lebih penting daripada mengelola konflik
Bagi keluarga terkaya di Asia, situasinya berbeda. Jika masyarakat umum lebih mengkhawatirkan kesiapan keluarga dan risiko konflik terkait aset, individu dengan kekayaan bersih tinggi justru jauh lebih tidak khawatir akan kemungkinan terjadinya perselisihan dalam keluarga. Seperlima (20%) menilai perselisihan sebagai ancaman besar terhadap keberlangsungan kekayaan, dibandingkan dengan 34% dari seluruh masyarakat umum yang disurvei. Sebaliknya, mereka lebih mengkhawatirkan hal-hal mendasar dalam menjaga keberlangsungan kekayaan, yaitu mengambil keputusan investasi yang tepat, mengelola kompleksitas perpajakan dan hukum, serta memiliki kepercayaan terhadap lembaga yang mengelola kekayaan mereka.
Keputusan investasi yang kurang tepat dipandang sebagai risiko oleh 37% responden dengan kekayaan bersih tinggi, dibandingkan dengan 24% masyarakat umum, sementara 29% menyoroti kompleksitas perpajakan atau hukum, dibandingkan dengan 18% masyarakat umum. Di antara mereka yang khawatir kekayaannya tidak akan bertahan hingga generasi berikutnya, 40% menyebut kepercayaan terhadap penasihat atau lembaga yang mengelola kekayaan mereka sebagai salah satu kekhawatiran, dibandingkan dengan 25% pada kelompok responden secara keseluruhan.