Di wilayah pesisir, misalnya, pergerakan angin laut dapat ikut memengaruhi perkembangan awan. Sementara di daerah pegunungan, bentuk permukaan wilayah dapat membantu udara naik dan memicu pembentukan awan.
Karena itu, tidak semua daerah memiliki pola hujan yang sama.
Ada wilayah yang lebih sering hujan sore, ada yang hujannya lebih banyak terjadi malam atau dini hari. Bahkan, kajian pengamatan di Indonesia menemukan beberapa stasiun yang justru memiliki pola berbeda dengan puncak hujan pada pagi hari.
Meski hujan sore cukup umum, bukan berarti setiap hari hujan pasti turun pada waktu tersebut.
Turunnya hujan tetap bergantung pada banyak faktor, mulai dari kelembapan udara, suhu, kestabilan atmosfer, arah dan kecepatan angin, kondisi topografi hingga sistem cuaca yang sedang memengaruhi suatu wilayah.
Jika udara cukup lembap dan atmosfer tidak stabil, pemanasan pada siang hari dapat menjadi pemicu terbentuknya awan hujan. Sebaliknya, jika kondisi atmosfer kurang mendukung, cuaca bisa tetap cerah atau hanya berawan meskipun siang terasa panas.
Itulah sebabnya kadang siang hari sangat terik tetapi sampai malam tidak turun hujan sama sekali.
Jadi, kebiasaan hujan yang terasa lebih sering datang pada sore hingga malam bukan sekadar kebetulan. Di banyak wilayah Indonesia, pola tersebut berkaitan dengan siklus pemanasan matahari sepanjang hari yang kemudian memicu proses konveksi dan pertumbuhan awan.
Sederhananya, matahari bekerja sejak pagi, udara hangat dan lembap naik, awan berkembang, lalu ketika kondisi atmosfer sudah mendukung, hujan pun turun.