Faktanya, salah satu prinsip utama identitas Kanada adalah perlawanannya terhadap ekspansionisme AS pada abad ke-18 dan ke-19, kata Tim Foran, peneliti di Canadian War Museum.
"Ketakutan terhadap Amerika Serikat adalah fondasi dari proyek politik yang bernama Kanada," katanya.
Kanada terbentuk dari kumpulan koloni Inggris di Amerika Utara yang tetap setia kepada UK ketika koloni-koloni di wilayah yang kini menjadi AS memberontak.
Sebelum pembentukan Kanada, AS pernah mencoba menginvasi koloni-koloni Inggris di Amerika Utara, merebut kendali atas Montreal pada 1775, dan hampir menaklukkan Kota Quebec.
Dalam Perang 1812, Amerika berulang kali menginvasi wilayah yang saat itu dikenal sebagai Upper Canada, Lower Canada, dan koloni-koloni maritim. Namun, upaya-upaya tersebut berakhir dengan kegagalan.
Selama perang itu, pasukan Inggris terkenal karena membakar Gedung Putih sebagai aksi balasan.
Foran mengatakan bahwa pada saat itu, koloni-koloni yang kemudian menjadi Kanada bergantung pada Britania Raya dan Angkatan Laut Kerajaan Inggris di bidang pertahanan, serta pada individu-individu dari masyarakat adat yang bertindak sebagai jenderal dalam pertempuran-pertempuran besar.
Mark Carney dan Donald Trump. Hubungan Kanada-AS memburuk pada masa jabatan kedua Trump sebagai presiden (Getty Images)
Kanada kembali mempertimbangkan kemungkinan perang dengan AS setelah Perang Dunia I sebagai respons terhadap pertumbuhan kekuatan dan pengaruh negara tersebut.
Kanada menyusun sebuah rencana yang dibuat berlandaskan serangkaian perjalanan rahasia para jenderal Angkatan Darat Kanada ke kota-kota perbatasan. Di sana mereka menyamar sebagai turis dan memotret jembatan serta jalan raya untuk keperluan intelijen.
Mereka juga berbicara dengan penduduk setempat untuk lebih memahami musuh mereka.
Saat itu, perang merupakan skenario yang tidak mungkin terjadi, kata Andrew Burtch, peneliti di Canadian War Museum yang memiliki keahlian tentang Kanada pada abad ke-20.
Meski demikian, militer Kanada tetap ingin bersiap.
"Itulah bagian dari apa yang dilakukan militer," katanya. "Mereka membayangkan berbagai macam skenario yang berbeda."
Meski invasi AS sangat tidak mungkin terjadi, Matthew Schmidt, profesor madya bidang keamanan nasional di University of New Haven di Connecticut, mengatakan fakta bahwa warga Kanada sedang bersiap menghadapi invasi menunjukkan betapa drastisnya perubahan tatanan global.
Dia menambahkan bahwa para pemimpin Kanada memang memiliki pertanyaan-pertanyaan sulit untuk dijawab tentang kemungkinan untuk terus bekerja sama dengan militer Amerika sebuah kemitraan yang memberi mereka informasi berharga apabila AS ingin mencelakakan Kanada dengan cara apa pun.
"Ini benar-benar merusak hubungan dengan Amerika Serikat, dan memang ada tingkat ketakutan yang sahih," katanya.