"Di sinilah fungsi utama pemodelan. Kita dapat menginvestigasi berbagai skenario untuk mengambil keputusan yang bersifat antisipatif dan preventif agar kebakaran yang lebih hebat pada masa depan dapat dicegah," kata Dr Elham.

Kebakaran hutan dan lahan yang terjadi saat ini tidak terlepas dari keringnya lahan gambut. Sehingga melakukan restorasi ekosistem gambut harus dilakukan, salah satunya dengan membasahi kembali lahan gambut yang kering atau dikenal dengan rewetting.

Rewetting dapat dilakukan di antaranya dengan membangun sekat kanal supaya ketersediaan air dan kelembapan lahan tetap terjaga. Dengan begitu, potensi lahan gambut untuk terbakar saat musim kemarau dapat ditekan.

Pengelolaan lahan gambut, yang disebut dengan paludikultur, juga dianjurkan supaya tidak perlu mengeringkan lahan demi kepentingan budidaya. Hal ini dapat dilakukan dengan memilih komoditas lain untuk ditanam.

Untuk lahan gambut sendiri komoditas yang menjadi alternatif tim redaksi lain adalah jelutung, sagu, dan purun. Masyarakat tetap dapat memanfaatkan lahan dan bernilai ekonomi tanpa harus mengeringkan lahan tersebut.

Salah satu dampak kebakaran yang paling besar adalah asapnya. Bahkan pada beberapa lokasi hingga mengurangi jarak pandang secara signifikan.

Di dalam asap terdapat kandungan partikulat halus PM2.5 yang dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, utamanya pada sistem pernapasan. Selain pernapasan, kabut asap juga mengganggu aktivitas sehari-hari karena kualitas udara yang memburuk.