Menurut ahli psikologi, perbedaan antara mengeluh secara sehat dan tidak sehat ada pada seberapa sering seseorang melakukannya.

"Jika mengeluh menjadi kebiasaan, hal itu justru dapat mulai mengubah cara kerja otak ke arah pandangan yang lebih negatif," kata Cannity.

"Ini dapat meningkatkan fokus pada stimulus yang memicu kemarahan atau ketakutan, yang pada akhirnya meningkatkan kadar hormon stres secara keseluruhan di dalam otak dan tubuh," ia menjelaskan.

Menurut penelitian, saat kita mengeluh, otak melepaskan kortisol, hormon stres, yang jika berlebihan dapat berdampak buruk pada kualitas tidur, tekanan darah, metabolisme, dan fungsi tubuh penting lainnya.

Dalam studi tahun 1996, para peneliti dari Universitas Stanford mendapati bahwa mengeluh atau sekadar mendengarkan keluhan orang lain selama setengah jam atau lebih dapat mengecilkan hipokampus, bagian otak yang berperan dalam ingatan dan pengaturan emosi.

Di luar dampak neurosains itu, kebiasaan mengeluh secara berlebihan juga dapat merusak hubungan antar-pribadi.