NADIKABAR.COM — Tim panitia telah memilih 10 nama kandidat DPD RI Awards 2026 kategori Inovator Teknologi Kesehatan. Para kandidat terpilih ini menghasilkan terobosan yang berdampak bagus untuk dunia kesehatan di Indonesia.

DPD RI menjelaskan bahwa penghargaan untuk kategori ini akan diberikan kepada individu hingga profesional yang menjadi inovator teknologi kesehatan.

"Diberikan kepada individu, profesional atau akademisi yang menghasilkan inovasi di bidang kesehatan melalui riset klinis maupun laboratorium, termasuk penemuan obat, terapi, atau alat kesehatan yang memberikan manfaat bagi masyarakat," tulis DPD RI dalam laman resminya, seperti dilihat NadiKabar, Rabu (19/8/2026).

Berikut nama-nama 10 kandidat Inovator Teknologi Kesehatan DPD RI Awards 2026, yang diurutkan berdasarkan abjad:

Amal Rezka Putra mengembangkan berbagai radiofarmaka, yaitu obat yang menggunakan zat radioaktif untuk membantu dokter mendeteksi dan menangani penyakit, khususnya tuberkulosis (TB) dan kanker.

Inovasinya mencakup Kit Etambutol untuk membantu menemukan lokasi infeksi TB, termasuk TB di luar paru. Inovasi Samarium-153 EDTMP untuk membantu mengurangi nyeri pada pasien kanker yang telah menyebar ke tulang. Inovasi Iodium-131 MIBG untuk membantu diagnosis dan terapi kanker neuroblastoma pada anak.

Selain itu, Amal Rezka juga mengembangkan mikrosfer Samarium-153 dan Holmium-166 sebagai kandidat terapi kanker hati.

Berbagai inovasi itu dikembangkan dari tahap penelitian hingga hilirisasi dengan beberapa produk telah memperoleh izin edar BPOM dan digunakan dalam pelayanan kedokteran nuklir di sejumlah rumah sakit.

Aslis Wirda Hayati mengembangkan inovasi di bidang kesehatan dan gizi yang berfokus pada pencegahan stunting serta peningkatan pemahaman masyarakat mengenai pola makan bergizi. Inovasinya mencakup metode deteksi dini pertumbuhan linier anak balita dan edukasi gizi bagi remaja dengan memanfaatkan makanan khas daerah.

Dia mengembangkan metode dan alat rapid diagnostik pertumbuhan linier anak balita dengan memanfaatkan Pyridinium Crosslinks (Pyd) dalam urin sebagai biomarker pertumbuhan tulang. Metode ini dikembangkan sebagai alternatif pengukuran pertumbuhan yang lebih meyakinkan dan tidak menyakitkan bagi anak.

Selama ini pertumbuhan linier anak umumnya dipantau melalui pengukuran tinggi badan, tapi pengukuran tinggi badan dapat dipengaruhi oleh ketepatan alat, teknik pengukuran, dan kemampuan petugas. Sementara pemeriksaan pertumbuhan tulang melalui radiologi maupun pengambilan darah memiliki keterbatasan karena paparan radiasi atau tindakan yang dapat menimbulkan rasa sakit.

Penggunaan urin sebagai bahan pemeriksaan menawarkan pendekatan yang tidak invasif untuk mendukung deteksi gangguan pertumbuhan sejak dini. Dampaknya, sejak tahun 2023 inovasi ini telah menjangkau sekitar 1.065 anak balita di 11 desa.

Eka Lestari Mahyuni membuat hand soap gel dari ekstrak acem-acem, dengan memanfaatkan kandungan saponin serta potensi antimikroba dan antijamur dari tanaman tersebut.

Eka juga membuat krim anti-aging dari ekstrak acem-acem, dengan memanfaatkan kandungan antioksidan tanaman acem-acem. Krim ini dapat membantu melembapkan kulit, menyamarkan keriput dan pori-pori, serta mengurangi tampilan flek pada kulit. Produk telah diuji coba dan dapat digunakan pada pagi maupun malam hari sehingga lebih praktis bagi pengguna.

Untuk kebutuhan pertanian melalui biopestisida ekstrak Oxalis dehradunensis R, ekstrak acem-acem digunakan sebagai bahan alami yang memiliki fungsi sebagai penolak serangga dan insektisida, salah satunya diuji untuk mengatasi serangan lalat buah.

Pengembangan ini memberikan alternatif penggunaan pestisida berbahan alami sekaligus mengubah tanaman yang sebelumnya dianggap gulma menjadi sumber bahan yang bermanfaat bagi petani.

Ike Listiyowati merupakan ahli gizi yang menggagas sejumlah produk olahan makanan dan minuman pendamping ASI untuk memenuhi kebutuhan gizi anak. Dia juga penggerak pencegahan stunting di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Pertama, olahan kacang hijau dan ikan wader bernama Joder, formula makanan pendamping ASI yang mempunyai nilai protein tinggi dan bermanfaat bagi tumbuh kembang balita gizi kurang dan stunting. Implementasi Joder diberikan pada balita gizi kurang dan stunting di Puskesmas Duren, Semarang, selama 30 hari.

Kedua, olahan moringa atau tepung daun kelor dan ikan wader (bubuk Tabur Moriwa). Makanan ini diberikan kepada bayi atau anak usia 6-24 bulan guna memenuhi kebutuhan gizi selain dari ASI yang tinggi protein dan antioksidan.

Ike juga aktif dalam kegiatan Guyub Rawa Pening, gerakan bersama melawan penyebab stunting dan gizi buruk. Gerakan ini kolaborasi keluarga balita dengan dokter spesialis anak, ahli gizi, dan fisioterapis.

Karisma Trinanda Putra mengembangkan GlucoMu, alat untuk memantau kadar gula darah dan kondisi tubuh tanpa perlu mengambil sampel darah. Alat ini menggunakan sensor cahaya (PPG) dan kecerdasan buatan (AI) untuk membaca perubahan pada tubuh dan memperkirakan kadar glukosa secara real-time.

Teknologi ini dirancang sebagai perangkat yang lebih nyaman, portabel, dan terjangkau dibandingkan metode pemantauan gula darah yang harus dilakukan dengan menusuk kulit.

Selain kadar glukosa, GlucoMu juga dapat memantau beberapa kondisi tubuh lainnya, seperti kadar oksigen dalam darah, detak jantung, variabilitas detak jantung, dan kadar hemoglobin.

Masteria Yunovilsa Putra dkk mengembangkan penelitian kratom Kalimantan untuk mengubah tanaman yang selama ini banyak dijual sebagai bahan mentah menjadi bahan baku obat yang lebih bernilai.

Sejak tahun 2022, penelitian dilakukan untuk mendapatkan dan memurnikan senyawa aktif kratom, terutama mitragynine, yang memiliki potensi sebagai pereda nyeri dan antiperadangan. Melalui penelitian dan teknologi ekstraksi, Masteria dkk berhasil menghasilkan ekstrak dengan kandungan mitragynine sekitar 50-85%.

Kemudian teknologi ini dikembangkan sebagai kekayaan intelektual BRIN dan dilisensikan kepada PT SOHO Industri Pharmasi untuk dikembangkan lebih lanjut menjadi kandidat produk farmasi.

Megi Riomandala merupakan penggagas inovasi Sikeling Pusako (Sistem informasi kesehatan lingkungan Puskesmas Semelako), digitalisasi pelayanan kesehatan lingkungan Puskesmas Semelako, Kabupaten Lebong, Bengkulu. Sikeling Pusako lahir dari pengalaman dan kepedulian terhadap masalah kesehatan lingkungan masyarakat.

Inovasi ini dimulai tahun 2019, awalnya mengembangkan PETISI (Pemetaan Sanitasi) untuk menjawab permasalahan masyarakat yang tinggal di sepanjang aliran sungai dan masih melakukan buang air besar di sungai.

Kemudian berkembang menjadi Sikeling Pusako tahun 2022, sebuah sistem digital untuk pendataan, pemetaan, pemantauan dan pelayanan kesehatan lingkungan yang terus dikembangkan hingga kini.

Dampaknya nyata, desa ODF (Open Defecation Free) atau desa stop buang air besar sembarangan meningkat dari 0 desa pada tahun 2019 menjadi 100% pada tahun 2024.

Nur Arning mengembangkan Sobiku Indonesia (Sobat Peduli Kanker Anak Untuk Indonesia), platform digital untuk memperkuat ekosistem deteksi dini kanker anak di tingkat masyarakat. Platform ini tersedia melalui aplikasi Sobiku Indonesia dan website dengan fitur skrining gejala kanker anak, informasi rumah singgah, artikel edukasi, komunitas, donasi, serta Sobiku Store.

Sobiku Indonesia tidak hanya mengandalkan platform digital, tetapi menggabungkannya dengan edukasi dan pemberdayaan masyarakat melalui empat program utama: edukasi kanker anak bersama tenaga medis, pelatihan kader Posyandu, screening gejala kanker anak di Posyandu menggunakan aplikasi serta dukungan psikososial bagi anak dan orang tua pejuang kanker. Acuan screening dikembangkan berdasarkan masukan dokter subspesialis hemato-onkologi anak dan panduan Kementerian Kesehatan RI.

Rini Khamimatul Ula mengembangkan Vein Finder berbasis Artificial Intelligence (AI) yang memanfaatkan teknologi near-infrared (NIR) dan pengolahan citra. Inovasi ini membantu tenaga kesehatan memvisualisasikan dan mengidentifikasi pembuluh darah vena secara lebih mudah.

Keunggulan inovasi ini terletak pada kemampuannya untuk beradaptasi dengan keragaman warna kulit masyarakat Indonesia tanpa harus mengubah pengaturan alat secara manual.

Alat juga dirancang mudah digunakan, praktis, dan terjangkau, sehingga memiliki peluang untuk dimanfaatkan tidak hanya di rumah sakit, tetapi juga di puskesmas dan fasilitas kesehatan di daerah terpencil.

Vein Finder AI merupakan upaya menghadirkan teknologi kesehatan yang berpusat pada manusia. Inovasi ini diharapkan dapat membantu tenaga kesehatan, meningkatkan kenyamanan pasien, memperluas akses teknologi kesehatan, serta mengurangi ketergantungan terhadap alat kesehatan impor.

Siti Nurmaini mengembangkan aplikasi TeleOTIVA, inovasi kesehatan digital dengan mengintegrasikan Artificial Intelligence (AI), computer vision, dan telemedicine untuk mendukung skrining serta deteksi dini kanker serviks.

Aplikasi ini membantu tenaga kesehatan mendokumentasikan citra serviks, mengidentifikasi area dan lesi yang dicurigai, serta menyediakan informasi pendukung untuk evaluasi dan pengambilan keputusan klinis.

Melalui fitur telemedicine, hasil pemeriksaan dapat dikonsultasikan dengan tenaga medis atau dokter spesialis tanpa terkendala jarak, sehingga berpotensi memperluas akses layanan screening di puskesmas dan wilayah dengan keterbatasan tenaga spesialis.

TeleOTIVA juga menyediakan dokumentasi pemeriksaan dan pemantauan tindak lanjut pasien secara digital. Inovasi ini dikembangkan sebagai sistem pendukung keputusan klinis, bukan pengganti tenaga medis, dan tersedia melalui platform aplikasi digital.