Kontaminasi E. coli pada makanan juga dapat berkaitan dengan masalah kebersihan dan sanitasi. Buah dan sayuran yang dikonsumsi tanpa proses pemanasan, misalnya, dapat terkontaminasi melalui air, lingkungan, peralatan, maupun tangan yang tidak bersih.

Gejala infeksi E. coli bergantung pada strain yang menginfeksi. Pada STEC, gejala yang dapat muncul berupa kram perut hebat dan diare yang dapat berkembang menjadi diare berdarah. Mual, muntah, dan demam ringan juga dapat terjadi.

Masa inkubasinya lebih panjang dibandingkan keracunan akibat S. aureus atau bentuk emetik B. cereus. Gejala STEC umumnya mulai muncul sekitar 2 hingga 5 hari setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi.

Pada kasus berat, terutama pada anak-anak, infeksi STEC dapat berkembang menjadi hemolytic uremic syndrome atau HUS. Kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan sel darah merah, penurunan trombosit, hingga gangguan fungsi ginjal akut.

Meski demikian, keberadaan E. coli pada sampel makanan tidak otomatis berarti bakteri tersebut merupakan STEC. Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui jenis atau strain E. coli yang ditemukan serta karakter patogeniknya.

Temuan tiga bakteri patogen pada sampel makanan di Berastagi menjadi bagian penting dalam investigasi kejadian keracunan. Namun, hasil tersebut belum tentu menjelaskan seluruh penyebab siswa mengalami keracunan.

Penyakit akibat pangan dapat disebabkan oleh banyak agen. Selain bakteri seperti S. aureus, B. cereus, dan E. coli, terdapat bakteri patogen lain yang juga dapat mencemari makanan.

Penyebabnya dapat berasal dari virus, parasit, maupun toksin yang sudah terbentuk di dalam makanan. Keracunan juga dapat berkaitan dengan toksin alami pada bahan pangan, histamin, maupun kontaminan kimia seperti nitrit.

Hal tersebut penting diperhatikan karena hasil laboratorium yang tersedia hanya menunjukkan pemeriksaan terhadap sejumlah parameter bakteri. Dari hasil yang ditunjukkan, terdapat empat jenis bakteri yang diperiksa sehingga masih terdapat kemungkinan agen penyebab lain yang berada di luar parameter pemeriksaan tersebut.

Investigasi kejadian keracunan makanan karena itu perlu melihat banyak aspek secara bersamaan. Jenis makanan yang dikonsumsi, jumlah siswa yang mengalami gejala, waktu konsumsi, waktu munculnya keluhan, pola gejala, proses pengolahan, hingga kondisi penyimpanan makanan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas.