Di tengah proses menggambar, sebuah kompor listrik mulai dinyalakan untuk memanaskan malam. Aroma khas dari malam yang sedang dipanaskan langsung tercium. Dari proses itu, asap tipis muncul sebagai pertanda bahwa malam mulai mencair. Sampai malam mencair, proses yang dibutuhkan sekitar 10 menit.
Sembari menunggu proses tersebut, peserta kemudian memindahkan selembar kain mori ke sebuah alat yang dinamakan pemidangan. Pemidangan merupakan alat berbentuk bulat yang digunakan untuk merentangkan dan mengencangkan kain.
Di workshop kali ini, pemidangan berfungsi untuk menahan kain tidak mengerut saat malam mulai digoreskan di atasnya. Peserta diajarkan cara memegang pemidangan agar bisa menggoreskan malam batik dengan lancar. Pemidangan harus dipegang dengan posisi hampir 90 derajat untuk memudahkan proses mencanting.
Akhirnya, peserta akan melalui tahap inti dari kegiatan workshop, yakni mencanting. Edukator Museum Batik Indonesia, Melvi Ilya Herdiana, memandu para peserta dalam proses menuangkan malam menggunakan canting tradisional dengan teknik khusus.
Nah, cara pegangnya berlawanan dari cara pegang pensil. Kalau pegang canting, (lubang untuk keluar malam) diarahkan lebih naik. Ini untuk mengatur tetesan dengan malam panasnya, biar nggak terlalu banyak. Cantingnya (dipegang) 45 derajat," kata Melvi kepada NadiKabar, Rabu (9/9/2026).