NADIKABAR.COM — Kepala Unit Pengelola Museum Seni, Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta Sri Kusumawati mendorong masyarakat terutama generasi muda diharapkan tidak berhenti pada rasa bangga memakai batik, tetapi juga memiliki keinginan untuk mengenal, mempelajari, merawat, dan meneruskan pengetahuan tentang batik.
“Karena pada akhirnya, keberlanjutan batik sebagai warisan budaya sangat bergantung pada sejauh mana kita mampu menjadikannya tetap hidup, relevan, dan dicintai dari generasi ke generasi,” kata Sri kepada NadiKabar di Jakarta, Jumat.
Dalam hal ini, Museum Tekstil mengajak masyarakat untuk mengenal lebih dekat ragam tradisi batik di berbagai daerah Indonesia, salah satunya melalui pameran “Jejak Keindahan: Batik Kudus, Demak, dan Banyumas” yang digelar bertepatan dengan peringatan Hari Batik Nasional pada 2 Oktober.
Sri mengatakan momentum Hari Batik Nasional mengingatkan bahwa batik bukan sekadar kain atau busana, melainkan bagian dari identitas dan kekayaan budaya bangsa Indonesia.
“Melalui pameran ‘Jejak Keindahan’, kami ingin mengajak masyarakat untuk melihat lebih dekat betapa beragamnya tradisi batik di berbagai daerah dan memahami bahwa setiap motif dan setiap lembar kain menyimpan jejak sejarah, kreativitas, serta kehidupan masyarakat pada zamannya,” tutur Sri yang juga Unit Pengelola (UP) Museum Seni mengelola Museum Tekstil, Museum Seni Rupa dan Keramik.
Pameran “Jejak Keindahan: Batik Kudus, Demak, dan Banyumas”, kata Sri, menghadirkan 60 koleksi yang terdiri dari 3 batik Demak, 15 batik Kudus dan 42 batik Banyumas. Koleksi yang ditampilkan merupakan koleksi lama Museum Tekstil.
Sri mengatakan ketiga tradisi batik tersebut merupakan bagian dari perjalanan sosial dan budaya masyarakat di daerahnya masing-masing. Namun, seiring perubahan zaman, keberadaannya mengalami pasang surut.
“Berkurangnya regenerasi pembatik, perubahan pola kehidupan masyarakat, perkembangan selera, serta berbagai faktor sosial dan ekonomi turut memengaruhi keberlanjutan tradisi tersebut,” tutur dia.
Pameran “Jejak Keindahan: Batik Kudus, Demak, dan Banyumas” hadir untuk mempertemukan kembali masyarakat dengan koleksi Batik Kudus, Demak, dan Banyumas serta membuka ruang dialog mengenai perjalanan, keindahan, dan keberlanjutannya.
“Meskipun masa kejayaannya mungkin telah berlalu, jejak keterampilan, kreativitas, dan nilai budaya yang terkandung dalam karya-karya tersebut tetap hidup hingga hari ini,” ujar Sri.
Lebih lanjut, Sri mengatakan sebagai museum yang memiliki perhatian khusus terhadap tekstil Indonesia, Museum Tekstil tidak hanya melakukan penyimpanan dan perawatan koleksi, tetapi juga pendataan, dokumentasi, konservasi, penelitian, pameran, serta berbagai program edukasi dan publik.
Museum Tekstil juga terus membangun kolaborasi dengan pembatik, komunitas, akademisi, kolektor, serta berbagai pihak yang memiliki pengetahuan mengenai batik.
Sri mengatakan bagi Museum Tekstil menjaga batik tidak cukup hanya dengan menjaga kainnya. Pengetahuan mengenai pembuatnya, daerah asal, teknik, motif, pewarnaan, fungsi, serta cerita masyarakat di balik kain tersebut juga harus didokumentasikan.
“Dengan demikian, museum dapat menjadi ruang yang menghubungkan warisan masa lalu dengan perkembangan batik masa kini dan generasi yang akan datang,” tutur dia.