NADIKABAR.COM — Marathon bukan sekadar soal seberapa cepat seseorang berlari, tetapi juga bagaimana tubuh mampu mempertahankan tenaga hingga garis finis. Salah satu tantangan yang kerap ditakuti pelari adalah hitting the wall, kondisi ketika tenaga terasa terkuras, kaki terasa berat, dan mempertahankan kecepatan menjadi jauh lebih sulit.
Fenomena ini biasanya terjadi pada tahap akhir lomba, terutama sekitar kilometer ke-30 hingga kilometer ke-35. Namun, setiap pelari bisa mengalaminya pada jarak yang berbeda, tergantung kondisi fisik, strategi berlari, asupan energi, dan faktor lingkungan.
Lantas, apa sebenarnya yang terjadi ketika pelari mengalami hit the wall dalam marathon?
Dalam dunia lari, hit the wall atau menabrak tembok merupakan istilah untuk menggambarkan penurunan performa secara drastis selama lomba jarak jauh. Pelari yang mengalaminya biasanya kesulitan mempertahankan kecepatan, merasa sangat kelelahan, dan terkadang harus memperlambat langkah hingga berjalan.
Kondisi ini berbeda dari rasa lelah biasa setelah berlari dalam waktu lama. Ketika mengalami hit the wall, penurunan performa bisa terasa lebih mendadak dan berat, meskipun pelari masih berusaha melanjutkan lomba.
Fenomena tersebut sering dikaitkan dengan menipisnya cadangan glikogen, yakni bentuk karbohidrat yang disimpan di otot dan hati untuk digunakan sebagai sumber energi. Saat berlari dalam waktu lama, tubuh menggunakan cadangan tersebut untuk memenuhi kebutuhan energi.
Ketika ketersediaan glikogen menurun, tubuh semakin mengandalkan lemak sebagai sumber energi. Meski lemak juga dapat digunakan untuk menghasilkan tenaga, prosesnya tidak mampu memenuhi kebutuhan energi secepat karbohidrat ketika pelari mempertahankan intensitas tinggi.
Akibatnya, kecepatan berlari dapat menurun dan tubuh terasa semakin sulit diajak bekerja sama.