Jenazah kemudian dievakuasi menuju Kota Bengkulu untuk menjalani pemeriksaan. Polda Bengkulu selanjutnya mengirimkan sampel DNA ke Pusdokkes Polri untuk dicocokkan dengan data keluarga rombongan kapal yang hilang.
Hasil pemeriksaan DNA yang diumumkan Polda Banten pada 23 September 2026 menunjukkan jenazah tersebut identik dengan Surakman atau Sukarman, salah satu kru KM Arupadatu I.
KM Arupadatu I diketahui membawa lima jurnalis bersama kru dan pemandu ketika bertolak dari wilayah Carita, Pandeglang, pada 7 September 2026. Rombongan tersebut hendak melakukan peliputan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
Kapal kemudian dilaporkan hilang kontak. Operasi pencarian dilakukan oleh tim SAR gabungan di wilayah Selat Sunda dan diperluas ke sejumlah wilayah perairan. Operasi pencarian selama 10 hari akhirnya dihentikan pada 18 September 2026 setelah tim belum menemukan korban lainnya.
Sementara itu, jenazah Surakman yang ditemukan di Pulau Enggano telah diberangkatkan dari Bengkulu menuju Jakarta pada Kamis, 24 September 2026 untuk kemudian diserahkan kepada Biddokkes Polda Banten. Jenazah selanjutnya akan diserahkan kepada keluarga di Pandeglang, Banten.
Penemuan jenazah Surakman di Pulau Enggano menambah informasi penting dalam rangkaian pencarian rombongan KM Arupadatu I. Hingga kini, lokasi geografis Pulau Enggano yang berada di Samudra Hindia menjadi bagian penting dari penyelidikan dan penanganan kasus hilangnya kapal tersebut.